Jarak diperbolehkanya Sholat Goib


Jarak diperbolehkanya Sholat Goib

Deskripsi Masalah

Sudah menjadi tradisi setiap ada warga NU (kaum muslimin/muslimat) meninggal dimintakan bantuan sholat ghoib kepada jamaah juma’ah di lain daerah (tetangga desa/kecamatan dan lain sebagainya).

Pertanyaan :
Berapakan jarak diperbolehkan melaksanakan sholat ghoib dalam hukum fikih?
(Muhammad Saefuddin)

Jawaban :

Jarak diperbolehkanya melakukan sholat ghoib adalah Tafshil
Apabila mayit berada di luar balad ( desa/ daerah ):
a.  Menurut Shohibul Imdad tidak ada batasan mengenai jarak minimal diperbolehkannya melaksanakan sholat ghoib selama tidak ada masyaqqoh (kepayahan/udzur)
b.      Menurut Imam Abu Mahromah, sekira tidak mendengar suara adzan
c.       Menurut shohibut tuhfah (Al Imam Ibnu Hajar), harus melebihi haddulghaus (melebihi suara panggilan orang yang meminta pertolongan)

Apabila mayit berada dalam satu balad ( desa / darah ):

a.      Menurut al madzhab tidak diperbolehkan secara mutlak
b.      Boleh apabila ada masyaqqah (kepayahan/udzur)

Ibarat :

1.      Bughatul Muustarsyidin Hal : 95
2.      Nihayatul Muhtajz Juz : 6  Hal : 439
3.      Al Majmu’ Syarhil Al Muhadzab Juz : 5 hal 211
4.      I’anatu Tholibin Juz :2 Hal : 151

وقال أبو مخرمة : وضابط الغيبة أن يكون بمحل لا يسمع منه النداء ، وفي التحفة أن يكون فوق حد الغوث ، قال : ولا يصلى على حاضر في البلد وإن عذر بنحو حبس أو مرض اهـ. لكن في الإمداد والنهاية أنها تصح إن شق عليه الحضور.
{بغية المسترشدين ص:95 المكتبة الهداية}
Artinya :
Abu Makhromah berkata : batasan Ghibah ( tidak ditempat ) adalah ketika berada ditempat yang tidak mendengar panggilan . dalam kitab At Tuhfah : di atas panggilan yang keras . Imam Nawawi berkata : tidak diperbolehkan melakukan sholat ghoib orang yang hadir di tempat tersebut  walaupun dalam keadaan udzur seperti di penjara atau sakit . tetai dalam kitab Al Imdad dan An Nihayah di jelaskan bahwa: bagi orang yang hadir di perbolehkan melaksananakan sholat ghoib ketika ada masyaqot untuk menghadiri sholat janazah

( Bughyatul Mustarsyidin Hal : 95 )

 ( وَيُصَلَّى عَلَى الْغَائِبِ عَنْ الْبَلَدِ ) وَلَوْ فِي مَسَافَةٍ قَرِيبَةٍ دُونَ مَسَافَةِ الْقَصْرِ وَفِي غَيْرِ جِهَةِ الْقِبْلَةِ وَالْمُصَلِّي مُسْتَقْبِلهَا { ؛ لِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى عَلَى النَّجَاشِيِّ بِالْمَدِينَةِ يَوْمَ مَوْتِهِ بِالْحَبَشَةِ } رَوَاهُ الشَّيْخَانِ ،.....إلى أن قال.... أَمَّا الْحَاضِرُ بِالْبَلَدِ وَإِنْ كَبُرَتْ فَلَا يُصَلَّى عَلَيْهِ لِتَيَسُّرِ الْحُضُورِ ، وَشَبَّهُوهُ بِالْقَضَاءِ عَلَى مَنْ بِالْبَلَدِ مَعَ إمْكَانِ إحْضَارِهِ ، فَلَوْ كَانَ الْمَيِّتُ خَارِجَ السُّوَرِ قَرِيبًا مِنْهُ فَهُوَ كَدَاخِلِهِ ، نَقَلَهُ الزَّرْكَشِيُّ عَنْ صَاحِبِ الْوَافِي وَأَقَرَّهُ : أَيْ ؛ لِأَنَّ الْغَالِبَ أَنَّ الْمَقَابِرَ تُجْعَلُ خَارِجَ السُّوَرِ ، وَعِبَارَتُهُ : مَنْ كَانَ خَارِجَ السُّوَرِ إنْ كَانَ أَهْلُهُ يَسْتَعِيرُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ لَمْ تَجُزْ الصَّلَاةُ عَلَى مَنْ هُوَ دَاخِلَ السُّوَرِ لِلْخَارِجِ وَلَا الْعَكْسُ ا هـ . وَلَوْ تَعَذَّرَ عَلَى مَنْ فِي الْبَلَدِ الْحُضُورُ لِحَبْسٍ أَوْ مَرَضٍ لَمْ يَبْعُدْ جَوَازُ ذَلِكَ كَمَا بَحَثَهُ الْأَذْرَعِيُّ ، وَجَزَمَ بِهِ ابْنُ أَبِي الدَّمِ فِي الْمَحْبُوسِ لِأَنَّهُمْ قَدْ عَلَّلُوا الْمَنْعَ بِتَيَسُّرِ الذَّهَابِ إلَيْهِ 
 {نهاية المحتاج الجز:6 ص:439}

 Dan boleh melaksanakan sholat ghoib bagi orang yang ada di tempat tersebut , walaupun dengan jarak yang dekat kurang dari jarak di perbilehkanya qoshor dan tidak menghadap qiblat  karena Nabi meksanakan sholat  untuk orang Najasyiy di madinah pada hari kematianya di Habasyah . H.R Bukhory Muslim ........ adapun orang orang yang ada di dalam desa walaupun desa tersebut luas , tidak di perbolehkan menjalankan sholat ghoib karena mudahnya datang . Ulama’ menyamakanya dengan mendatangi orang yang ada di dalam desa karena adanya waktu untuk datang . apabila mayit ada di luar batas desa yang dekat dengan desa maka sama dengan mayit yang ada di dalam desa . Imam Az Azakarsyi Mengambil pendapat dari Shohibul Al Wafi . karena pada umumnya maqbaroh di buat di luar desa . ibaratnya : orang yang ada di luar desa apabila warganya bisa salaing menolong maka orang yang ada di dalam desa tidak boleh ikut mesholati begitu juga sebaliknya . dan apabila orang yang ada di desa ada udzur untuk datang karena di penjara atau sakit maka tidak jauh dari diperbolehkanya menjalankan sholat ghoib seperti yang telah di bahas oleh Imam Al Adzro’iy . sedangkan Imam Ibnu Abi Dammi memantapkan pendapat yang memperbolehkan menjalankan sholat ghoib bagi orang yang sedang di penjara karena mereka beralasan tidak adanya kemudahan untuk dantang.

( Nihayatul Muhtajz Juz : 6 Hal : 439 )

ومذهبنا جواز الصلاة علي الميت الغائب عن البلد سواء كان في جهة القبلة ام في غيرها ولكن المصلي يستقبل القبلة ولا فرق بين ان تكون المسافةُ بين البلدين قريبةً أو بعيدةً ولا خلاف في هذا كله عندنا (اما) إذا كان الميت في البلد فطريقان (المذهب) وبه قطع المصنف والجمهور لا يجوز ان يصلي عليه حتى يحضرَ عنده لان النبي صلي الله عليه وسلم " لم يصل على حاضر في البَلَد الا بحضرته " ولانه لا مشقة فيه بخلاف الغائبِ عن البلد " (والطريق الثاني) حكاه الخُراسَانيون أو أكثر هم فيه وجهان (أصحُهما) هذا (والثانى) يجوز كالغائب
{المجموع الجز:5 ص:211}

Menurut Madzhab kami ( Syafi’iyyah ) boleh melaksanakan sholat ghoib untuk mayit dari satu daerah baik menghadap  qiblat atau tidak tetapi orang yang solat tetap menghadap qiblat dan tidak ada perbedaan anatara jarak kedua desa  dekat atau jauh .  adapun ketika mayit dari dalam desa maka ada dua jalan . madzhab yang di pilih dan di kuatkan oleh mushonif dan mayoritas ulama’  : tidak boleh menjalankan sholat ghoib sampai dia menghadirinya karena Nabi tidak melaksanakan sholat mayit untuk mayit yang ada di dalam desa kecuali berada di dekatnya . dan karena tidak adanya masyaqot untuk menghadirinya berbeda dengan mayit yang ada dari daerah lain .
Yang kedua : pendapat dari Ahli Khurostan atau mayoritas Ulama’nya hukumnya ada dua yang paling shohih adalah tidak bole ( Hadza ) wajah kedua , boleh seperti sholat ghoib.

( Al Majmu’ Juz 5 Hal : 211 )

(قوله: لا على غائب عن مجلسه فيها) أي لا تصح الصلاة على ميت غائب عن مجلس من يريد الصلاة عليه، وهو حاضر في البلد، وإن كبرت البلد، لتيسر حضوره. وشبهوه بالقضاء على من بالبلد مع إمكان حضوره. وفي سم خلافه، ونص عبارته: المتجه أن المعتبر المشقة وعدمها. فحيث شق الحضور - ولو في البلد لكبرها ونحو - صحت، وحيث لا - ولو خارج السور - لم تصح. م ر. والاوجه في القرى المتقاربة جدرانها أنها كالقرية الواحدة.
{إعانة الطالبين الجز:2 ص:151 المكتبة الشاملة}

Tidak boleh melaksanakan sholat ghoib dari tempat oarang yang hendak menjalankan sholat ghoib sedangkan dia hadir di desa tersebut walaupun desa tersebut luas kawasanya karena adanya kemudahan untukmenghadirinya . di samakan dengan mendatangi undangan untukorang yang dari ddesa lain ketika ada waktu untuk hadir . pendapat yang Mutajjah : yang di jadikan dasar boleh dan tidaknya adalah adanya masyaqoh dan tidaknya , maka apabila sulit untuk hadir misalnya walaupun dalam satu desa karena luas kawasanya maka sah manjalankan sholat ghoib , dan apabila tidak ada ksulitan untuk hadir walaupun di luar desa maka tidak sah . Ar Romli . Al Aujah : desa yang berdekatan seperti satu desa .

( I’anatu Tholibin Juz : 2 Hal : 151)


Puisi Islami






DI ANTARA KAF DAN NUN
Oleh : Majnun Sang Perindu

Dzat-Mu awal tak bermula
Maha akhir tak temui sirna
Di telapak tanganMu aku beku
Ruhku lantang menyanggupi 
Apa yang dunia tak mampu


Tiada air api tanah dan udara
Bahkan sunyi pun belum menjelma
Karena semua belum bermula
Hanya engkau saja yang bertahta

Aku terhenti membaca dawuh-Mu

"Di antara kaf dan nun
Kujadikan rahim bagi segalanya"
KuasaMu menggelegar tak tertabiri apapun


Ilahi ....

Di antara kaf dan nun aku berdo'a
Kini janji dari-Mu telah kuingkari
Firdaus tak mungkin aku singgahi
Tapi tak ada yang tak mungkin bagi-Mu ....




Senin , 31 Agustus 2015


UNGGUNAN RINDU


Aku kira:
Beginilah jadinya nanti
Aku kawin, bersatu atap denganmu
Sedang anak anak yang serupa kita merajuk
Bergelayutan di pundak dan pangkuanmu
Dulu ayah ibu mereka pada dinding: tersandar bisu
Menanti jemari lagukan rindu
Jadi baik kita ulangi
Unggunan sendu ini
Bila dada serasa beku dan jam dinding berdetak pilu
Ada tangan kita tak bisa menggapai
Tinggalkan hati mengaduh terbelai

Riau.05.07.15

Fiqih Wanita : HAID DAN PERMASALAHANYA Bag : I








Fiqih Wanita : HAID DAN PERMASALAHANYA Bag : I


Fiqih Wanita : HAID DAN PERMASALAHANYA


Haid merupakan permasalahan yang tak terhindarkan oleh setiap wanita dewasa yang mana tiap tiap bulan bagi wanita dewasa akan mengalami siklus tersebut dan hal itu pula tidak lepas dari sorotan kazanah fiqih untuk mengkaji dan meetapkan hukum yang terjadi , Karena permasalahn haid ini tidak lepas dari hukum hukum sari’at yang tang saling berkaitan seperti Thoharoh , sholat , qiro’ah , puasa , puasa , penetapan balig seseorang , bahkan sampai perkara yang paling intim seperti jima’ .

1. Haid

Haid adalah darah yang keluar dari pangkal vagina perempuan secara sehat dan tidak sebab melahirkan.


وشرعا الدم الخارج من فرج المرأة أى من أقصى رحمها على سبيل الصحة من غير سبب الولادة


“ mnurut arti syara’ haid adalah darah yang keluar dari farji ( vagina ) perempuan ( pangkal vagina perempuan ) secara sehat tanpa ada sebab melahirkan “


Dari pengertian di atas bisa kita tarik kesimpulan bahwa tidak semua darah yang keluar dari rahim wanita di namakan darah haid tapi ada kreteria tersendiri untuk menamakan dyang keluar adalah darah haid.

Masa transisi dari anak menuju balig bagi wanita juga tak luput dari pembahasan ini karena keterkaitan yang erat antar keduanya dimana wanita di hukumi sudah mencapai Aqil Balig di antaranya ketika sudah Haid .

وأقل سنه تسع سنين قمرية تقربييا

“ Paling sedikitnya umur wanita haid adalahkurang lebih 9 Tahun Qomariyah “

Dalam penentuan haid wanita yang dalam masa transisi dari anak anak menuju Balig tidak serta merta di dasarkan pada setiap darah yang keluar pasti haid ,,, tapi harus ada penghitungan yang teliti dan benar yaitu paling sedikit umur wanita haid adalah kurang lebih 9 tahun Qomariyah . maka di contohkan

“ ketika ada perempuan mengeluarkan darah di umur kurang dari 9 tahun yang kekurangan tadi tidak cukup untuk masa haid dan sucinya ( 9 th kurang 15 hari ) maka darah tersebut sudah bias dikatakan darah haid bagi perempuan tadi. Tapi apabila kekuranganya bias mencukupi antara haid dan sucinya ( 9 th kurang 16 hari dan seterusnya ) maka darah yang keluar belum bias di namakan darah haid melainkan darah fasid.

فلو رأت الدم قبل نمام التسع بما لايسع حيض وطهرا فهو حيض ، او بما يسعهما فلا ، بل هو دم فساد
سليمان الكردى 195

“ dan apabila perempuan mengeluarkan darah sebelum sempurnanya Sembilan tahun dengan jarak yang tidak bisa memuat haid dan sucinya maka dihukumi haid atau dengan jarak yang bisa memuat haid dan sucinya maka tidak ( tidak di hukumi haid ) tetapi darah fasad .

Sulaiman Al Kurdiy 195


المنهج القويم - (1 / 120)
( وأقل ) زمن ( الحيض ) تقطع الدم أو اتصل ( يوم وليلة ) أي قدرهما متصلا وهو أربع وعشرون ساعة فما نقص عن ذلك فليس بحيض بخلاف ما بلغه عن الاتصال أو التفريق فإنه حيض وإن كان ماء أصفر أو كدرا ليس على لون الدم لأنه أذى فشملته الآية ( وأكثره ) زمنا ( خمسة عشر يوما بلياليها ) وإن لم يتصل ( وغالبه ست أو سبع ) كل ذلك باستقراء الإمام الشافعي رضي الله عنه ومن وافقه إذ لا ضابط له لغة ولا شرعا فرجع إلى المتعارف بالاستقراء 
Paling sedikit masa haid baik darahnya terputus atau langsung adalah sehari semalam atau 24 jam. Darah yang keluar kurang dari 24 jam bukan termasuk darah haid. paling banyak masa haid adalah 15 hari ( siang dan malam ) walaupun darahnya tidak sambung. # kebiasaan ( gholib ) wanita haid adalah 6 – 7 hari. Pengertian diatas menurut penelitian dari imam Syafi’I dan orang orang yang sependapat dengan beliau

المنهج القويم - (1 / 120)
( ووقته ) أي أقل سن يتصور أن ترى الأنثى فيه حيضا ( بعد تسع سنين ) قمرية ولو بالبلاد الباردة تقريبا حتى إذا رأته قبل تمامها بدون ستة عشر يوما كان حيضا أو بأكثر كان دم فساد ولا آخر لسنه فما دامت حية فهو ممكن في حقها ( وأقل طهر ) فاصل ( بين الحيضتين خمسة عشر يوما بلياليها ) بالاستقراء أيضا

Adapun paling sedikut umur wanita mulai haid adalah 9 tahun Qomariyyah. Dan tidak ada batasan bagi maksimalnya wanita mengalami haid karena selama wanita tersebut masih hidup masih di mungkinkan mengalami haid.

حاشية البجيرمي على الخطيب - (3 / 247)
( وَأَقَلُّ ) زَمَنِ ( الطُّهْرِ ) الْفَاصِلِ ( بَيْنَ الْحَيْضَتَيْنِ ) ( خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا ) لِأَنَّ الشَّهْرَ غَالِبًا لَا يَخْلُو عَنْ حَيْضٍ وَطُهْرٍ ، وَإِذَا كَانَ أَكْثَرُ الْحَيْضِ خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا لَزِمَ أَنْ يَكُونَ أَقَلُّ الطُّهْرِ كَذَلِكَ ، وَخَرَجَ بِقَوْلِهِ بَيْنَ الْحَيْضَتَيْنِ الطُّهْرُ بَيْنَ الْحَيْضِ وَالنِّفَاسِ ، فَإِنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يَكُونُ أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ ، سَوَاءٌ تَقَدَّمَ الْحَيْضُ عَلَى النِّفَاسِ إذَا قُلْنَا إنَّ الْحَامِلَ تَحِيضُ وَهُوَ الْأَصَحُّ أَمْ تَأَخَّرَ عَنْهُ وَكَانَ طُرُوءُهُ بَعْدَ بُلُوغِ النِّفَاسِ أَكْثَرَهُ كَمَا فِي الْمَجْمُوعِ ، أَمَّا إذَا طَرَأَ قَبْلَ بُلُوغِ النِّفَاسِ أَكْثَرُهُ فَلَا يَكُونُ حَيْضًا إلَّا إذَا فَصَلَ بَيْنَهُمَا خَمْسَةَ عَشَرَ يَوْمًا . ( وَلَا حَدَّ لِأَكْثَرِهِ ) أَيْ الطُّهْرِ بِالْإِجْمَاعِ فَقَدْ لَا تَحِيضُ الْمَرْأَةُ فِي عُمُرِهَا إلَّا مَرَّةً وَقَدْ لَا تَحِيضُ أَصْلًا .

Palingsedikit masa suci yang memisahkan antara dua haid adalah 15 hari. Karena pada umumnya tiap tiap bulan terjadi satu kali haid dan satu kali suci. Dan ketika paling banyaknya haid adalah 15 hari maka paling sedikitnya suci ( thuhrun ) adalah 15 hari juga. Adapun paling banyaknya masa suci menurut kesepakatan para ulama’ tidak ada batasan. Karena terkadang wanita tidak mengalami pendarahan sama sekali dalam hidupnya kecuahanya satu kali bahkan terkadang tidak sama sekali

. حاشية البجيرمي على المنهاج - (2 / 73)

حَاصِلُ مَسْأَلَةِ الدِّمَاءِ أَنَّهَا خَمْسَةُ أَقْسَامٍ : أَسْوَدُ وَأَحْمَرُ وَأَصْفَرُ وَأَشْقَرُ وَأَكْدَرُ .

Al Hasil dari masalah warna darah haid ada 5 bagian : Hitam Merah Kuning Merah Jambu Abu Abu


Demikian sedikit pengertian tentang hukum dasar haid semoga dapat memberi manfa'at bagi pembaca amin..............

Islam Indonesia

ISLAM INDONESIA






Islam Indonesia

Islam Indonesia adalah  Islam yang berdasarkan Al Qur’an dan Al Hadits serta literatur Keilmuan yang berdasar dan bersumber dari Al qur’an dan Al Hadist yang kemudian dinamakan Madzhab yang di bawa oleh para cendikiawan muslim dari berbagai daerah di Timur Tengah . jadi bisa di pahami bersama bahwa Islam Indonesia bukan lah merupakan aliran agama yang baru atau bahkan agama baru melainkan istilah bagi islam yang ada dan berkembang di negri Indonesia ini
Islam berkembang di Indonesia bumi pertiwi ini dengan pendekatan kultur ( kebudayaan ) setempat jadi Islam berangsur angsur bisa berkembang dan di terima oleh masyarakat pribumi yang notabene adalah penganut keperyaan animisme dan dinamisme atau bahkan mayoritas penduduk lokal kala itu menganut agama Hindu Budha yang merupakan agama warisan nenek moyang mereka . Namun dengan kegigihan dan ketelatenan serta mengedepankan pendekatan budaya dan kearifan lokal yang  di padu padankan dengan hukum syar’i didalamnya sehingga para pembawa Islam kala itu bisa diterima dan membaur dengan masyarakat setempat .
Memang banyak perbedaan dalam memahami pengertian Islam Indonesia atau sering di kenal dengan istilah Islam Nusantara yang pada bulan bulan kemarin semapat hangat menjadi perbincangan baik dari kalangan yang pro dan yang kontra , namun apapun itu kita tidak akan pernah bisa menafikan bahkan menghapuskan sebuah sejarah besar islam di bumi pertiwi ini hadir dengan cara yang berbeda dari negara yang lain , kalo menengok  islam di arab misalnya banyak sejarah penaklukan ,  sedangkaan di indonesia Islam masuk denagn membaur bersama masyarakat setempat berinteraksi melalui perdaggangan , perkumpulan dan lain sebagainya


LAIN LAIN : HUKUM KB



LAIN LAIN : HUKUM KB

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum wr.wb,

sahabat KOMPENI yang dirahamati ALLAH, Bagaimanakah hukum islam tentang KB, saya mendapati ada seorang kyai yg berpesan pada santrinya jika nanti menikah istrinya jangan boleh ikut KB.

Jawab :


·         Bila bertujuan untuk mengatur jarak kelahiran, maka makruh, jika tidak dalam keadaan udzur. Jika dalam keadaan udzur, seperti agar pendidikan anak-anaknya menjadi lebih ter-arah, maka hukumnya tidak makruh.
·         Bila tujuannya untuk memutuskan/menghentikan/membatasi kelahiran/keturunan (seperti ungkapan: Dua anak cukup), maka hukumnya haram, terkecuali ada udzur syar’ie, misalnya kata dokter yang ahli lagi adil, ada masalah besar yang membahayakan jiwanya jika mengandung.


Ta’bir


حاشية الشرقاوي على التحرير (ج ٢/ص -٣٣٢
وأما استعمال ما يقطع الحبل من أصله فهو حرام بخلاف مالا يقطعه بل يبطئه مدة فلا يحرم بل إن كان بعذر كتربية الولد لم يكره أيضا

Adapun penggunaan alat yang bisa memutus kehamilan secara permanen adalah haram . berbeda dengan penggunaan alat yang tidak memutus kehamilan melainkan hanya mengatur jarak kehamilan maka tidaklah haram , bahkan ketika penggunaan alat tersebut di karenakan adanya udzur seperti kebutuhan pendidikan anak maka tidaklah di makruhkan juga .

HASYIYAH AS SYARQOWIY ALA TAHRIR JUZ 2 HAL 332

Wallahu A’lam ..........


NADZAR : Hukum Puasa Nadzar Berturut turut


011. NADZAR : Hukum Puasa Nadzar Berturut turut



011. NADZAR : Hukum Puasa Nadzar Berturut turut

Prtanyaan :

Assalamu'alaikum, sahabat Kompeni.

Saya bertanya. Jika seorang perempuan mempunyai puasa nazar sebanyak 5 hari, namun, kemudian tepat di hari ke 3 pelaksanaan puasa, perempuan itu haid, apakah setelah suci, puasanya harus diulang dari awal?
Mohon penjelasannya!

Wassalam...

Jawab :

Jika pada waktu bernadzar menyebutkan / berniat dalam hati akan melaksanakan puasanya selama 5 hari berturut turut maka harus di laksanakan secara berturut turut ( 5 hari ) dan ketika berhalangan sebelum 5 hari maka harus mengulangi dari awal .

Ta’bir

وقال: " لله علي أن أصوم عشرة أيام "، فله ثلاثة أحوال

: أحدها: أن يشترط فيها التتابع إما بقوله، أو بقلبه فيلزمه تتابعها، ويكون على
التراخي دون الفور إلا أن يشترط فيها الفور، فيجب في شرطه أن يعجل صيامها على الفور فإن فرق صيامها لم يجزه وأعادها متتابعات.

الحاوى الكبير: ٤٩١/١٥

Ucapan Nadzir : demi Allah saya akan berpuasa sepuluh hari “ maka baginya tiga perkara : yang pertama apabila mensyaratkan sepuluh hari berturut turut baik dengan ucapan atau dalam hati maka wajib menjalankanya secara berturut turut dan boleh di lakukan pada kesempatan lain tidak harus seketika itu juga kecuali ketika di syaratkan seketika itu juga , maka wajib menjalankan syarat tersebut yaitu menjalankan puasanya dengan seketika dan apabila dia menjalankan puasanya secara terpisah maka tidak di perbolehkan dan harus mengulangi puasanya secara berturut turut .

Al Hawiy Al Kabir Juz 15 hal 194

Wallahu a’lam

https://web.facebook.com/groups/1410992642527228/1500946730198485/?comment_id=1500986843527807&notif_t=group_comment_follow

Menjual Barang Bekas Masjid

1.                          
 04. Menjual Barang Bekas Masjid

                  Diskripsi Masalah

Umumnya terjadi di desa  desa , dalam renovasi masjid terdapat sisa pembongkaran bajan material yang tidak terpakai , 
( Ranting NU Bungasrejo )

            Pertanyaan :

a.       Apakah di perbolehkan melelang material dan hasil lelang di serahkan kembali kepada masjid ?
Jawab :
Hukum melelang atau menjual material runtuhan masjid seperti pertanyaan di atas hukumnya tafshil :
1.       Apabila barang yang di lelang / di jual bukan barang waqaf , maka boleh di jual secara mutlaq
2.       Apabila barang yang di lelang / di jual merupakan barang waqaf maka hukumnya khilaf :
·         Menurut pendapat imam Syafi’i , Maliki dan Jumhur  Syafi’iyah tidak boleh dijual
·         Menurut pendapat Imam Ahmad dan imam Rofi’i , Nawawi yang mengikuti pendapat Imam Haromain  hukumnya boleh dengan syarat :
Ø  Sudah tidak di butuhkan lagi kemanfaatanya
Ø  Khawatir  tersia siakan
Ø  Khawatir di ambil ( di curi ) orang atau di ghoshob orang
Ta’bir

 “قليوبي” جزأ الثالث ص 108:
 (والأصح جواز بيع حصر المسجد) الموقوفة (إذا بليت وجفوا عنه إذا انكسرت، ولم تصلح إلا للإحراق) قوله: (ولم تصلح) أي الحصر والجذوع إلا للإحراق دخل في المستثنى منه، ما لو صلحت لخلط طين، ولو بنشرها أو لجعلها في بناء بدل الآجر، أو السقف أو نحو ذلك فلا تباع كما مر ومثل حصر المسجد وجذوعه غيرها من الموقوفات على المعتمد كما علم.
 “فتح الوهاب” جزأ الأول ص 259:
(ولا يباع موقوف وإن خرب) كشجرة جفت ومسجد انهدم وتعذرت إعادته وحصره الموقوفة البالية وجذوعه المنكسرة إدامة للوقف في عينه ولأنه يمكن الانتفاع به كصلاة واعتكاف في أرض المسجد وطبخ جص أو آجر له بحصره وجذوعه وما ذكرته فيهما بصفتهما المذكورة هو ما اقتضاه كلام الجمهور وصرح به الجرجاني والبغوي والروياني وغيرهم وبه أفتيت وصحح الشيخان تبعا للإمام أنه يجوز بيعهما لئلا يضيعا ويشتري بثمنهما مثلهما والقول به يؤدي إلى موافقة القائلين بالاستبدال.
المزان الكبرى جزأ الأول  ص 228
وسئل العلامة الشيخ أبو بكر بن أحمد الخطيب مفتى تريم عما بقي من فتات النورة والطين والأخشاب بعد الهدم ( فأجاب ) بجواب طويل مال الى جواز بيعها اذا لم تظهر حاجة لها للمسجد المذكور ولوفى المستقبل وخيف ضياعه او أخذ ظالم او غاضب لها اما اذا لم يخش شئمن ذلك فتحفظ الى أخر ما اطال به رحمه الله . اه . النص الوارد فى حكم تجديد المسجد للعلامة علوى بن عبد الله بن حسين السقاف واتفقوا على انه اذا خرب الوقف لم يعد الى ملك الواقف ثم اختلفوا فى حواز بيعه وصرف ثمنه فى مثله وان كان مسجدا فقال مالك والشافعى يبقى على حاله ولا يباع وقال احمد يجوز بيعه وصرف ثمنه فى مثله وكذلك فى المسجد اذا كان لا يرجى عوده وليس عند ابى حنيفة نص فيها . اه

b.      Bolehkah si pelelang menggunakan material tersebut untuk brbagai keperluan , misal buat rumah dll ?
Jawab

Merujuk pada jawaban pertama yang menyatakan adanya perbedaan pendapat , maka dalam pggunaanya pun sesuai klilaf yang ada 

Hukum Memakan Semut Jepang ( Hsarot ) Sebagai Sarana Penyembuhan Penyakit

1.      

        03. Hukum Memakan Semut Jepang ( Hsarot ) Sebagai Sarana Penyembuhan Penyakit

P         Pertanyaan

    Bagaimana hukum memakan hasarat ( serangga ) untuk pengobatan misalnya semut jepang untuk penyakit jantung dll, cacing untuk tifus dll, undur undur / bobongkang    ( jawa ) untuk mengobati diabetes ?
( MWC NU Jakenan )

Jawab :
Mengkonsumsi hasarot ( serangga ) sebagai obat  tersebut di hukumi boleh dengan syarat :
1.      Tidak ada obat yang lain ( yang suci )
2.      Ada obat tapi sulit di dapatkan ( masyaqot )
3.      Lebih cepat menyembuhkan
4.      Atas rekomendasi dokter ahli atau
5.      Oarang tersebut mengetahui kemanfaatan barang tersebut ( bisa menyembuhkan )

Ta’bir 

قَالَ أَصْحَابُنَا وَاِنَّمَا يَجُوْزُ التَّدَاوِىْ بِالنَّجَاسَةِ إِذَا لَمْ يَجِدْ طَاهِرًا يَقُوْمُ مَقَامَهَا فَاِنْ وَجَدَهُ حَرُمَتْ النَّجَاسَاتُ بِلَاخِلَافٍ - الى ان قال - قَالَ اَصْحَابُنَا وَاِنَّمَا يَجُوْزُ ذَلِكَ إِذَا كَانَ الْمُتَدَاوِىْ عَارِفًا بِالطِّبِّ يَعْرِفُ أَنَّهُ لَا يَقُوْمُ غَيْرُ هَذَا مَقَامَهُ أَوْ أَخْبَرَهُ بِذَلِكَ طَبِيْبٌ مُسْلِمٌ عَدْلٌ وَيَكْفِىْ طَبِيْبٌ وَاحِدٌ صَرَّحَ بِهِ الْبَغَوِيُّ وَغَيْرُهُ
المجموع شرح المهذب (9/ 50)

وَيَجُوزُ التَّدَاوِي بِنَجَسٍ غَيْرِ مُسْكِرٍ كَلَحْمِ حَيَّةٍ وَبَوْلٍ وَمَعْجُونِ خَمْرٍ كما مَرَّ في الْأَطْعِمَةِ وَلَوْ كان التَّدَاوِي لِتَعْجِيلِ شِفَاءٍ كما يَكُونُ لِرَجَائِهِ فإنه يَجُوزُ بِشَرْطِ إخْبَارِ طَبِيبٍ مُسْلِمٍ عَدْلٍ بِذَلِكَ أو مَعْرِفَةِ الْمُتَدَاوِي بِهِ إنْ عُرِفَ وبشرط عَدَمِ ما يَقُومُ بِهِ مَقَامَهُ مِمَّا يَحْصُلُ بِهِ التَّدَاوِي من الطَّاهِرَاتِ
أسنى المطالب في شرح روض الطالب (4/ 159

(
وَلَوْ وَصَلَ عَظْمَهُ ) بِقَيْدِ زِدْته بِقَوْلِي ( لِحَاجَةٍ ) إلَى وَصْلِهِ ( بِنَجَسٍ ) مِنْ عَظْمٍ ( لَا يَصْلُحُ ) لِلْوَصْلِ ( غَيْرُهُ ) هُوَ أَوْلَى مِنْ قَوْلِهِ لِفَقْدِ الطَّاهِرِ ( عُذِرَ ) فِي ذَلِكَ فَتَصِحُّ صَلَاتُهُ مَعَهُ - الى ان قال - ( قَوْلُهُ لِفَقْدِ الطَّاهِرِ ) الْمُرَادُ بِفَقْدِهِ أَنْ لَا يَقْدِرَ عَلَيْهِ بِلَا مَشَقَّةٍ لَا تُحْتَمَلُ عَادَةً وَالظَّاهِرُ أَنَّهُ يَجِبُ عَلَيْهِ طَلَبُهُ مِمَّا جَوَّزَهُ فِيهِ وَقَوْلُهُ وَلَا يَلْزَمُهُ نَزْعُهُ إذَا وُجِدَ الطَّاهِرُ الصَّالِحُ أَيْ : فِيمَا إذَا وَصَلَ لِفَقْدِهِ وَهُوَ صَالِحٌ لِلْوَصْلِ ا هـ ح ل
حاشية الجمل ج 4 ص 39

وقال الخضرى : حلال وأما الحشرات فكلها مستخبثة وكلها محرمة سوى ما يدرج منها وما يطير فمنها: ذوات السموم والإبر كالحية والعقرب والزنبور ومنها: الوزغ وأنواعه كحرباء الظهيرة والعظاء وهي ملساء تشبه سام أبرص، وهي أخس منه واحدتها عظاة وعظامة فكل هذا حرام ويحرم النمل والذر والفأرة والذباب والخفساء والقراد والجعلان وبنات وردان وهما رقبان والديدان إلا دود الجبن والخل والباقلا والفواكه، ونحوها من المأكول الذي يتولد منه الدود ففي حل أكل هذا الدود ثلاثة أوجه سبقت في باب المياه أحدها: يحل والثاني: لا وأصحها: يحل أكله مع ما تولد منه لا منفرداً.
المجموع شرح المهذب ج 9 ص 3

  قال أصحابنا والميتة التى لا نفس لها سائلة هي كالذباب والزنبور والنحل والنمل والخنفساء والبق والبعوض والصراصر و العقارب وبنات وردان والقمل والبراغيث وأشباهها: وممن صرح بالقمل و البراغيث الامام الشافعي في الام والشيخ أبو حامد وآخرون

وأما الذباب وسائر ما لا نفس لها سائلة وليس متولدا مما مات فيه فلا يحل أكله بالاتفاق وان قلنا انه طاهر عند القفال لانه ميتة ومستقذر


المجموع شرح المهذب ج 1 ص 127

Daging Aqiqoh Untuk Suguhan Tamu


01.    Daging Aqiqoh Untuk Suguhan Tamu

Pertanyaan

Pelaksanaan Aqiqoh yang bersamaan dengan resepsi  pernikahan atau khitanan kemudian dagingnya dimsak untuk makan makan tamu undangan. Apakah hal pelaksanaan aqiqoh tersebut di perbolehkan ?
(Ranting NU Jatisari)

Jawab

Menggunakan daging aqiqoh utuk acara Walimah tetap di perbolehkan , akan tetapi hal tersebut termasuk Khilaful Aula ( perbuatan yang kurang baik )

Ta’bir


1.    Fiqih al Islam Wa Adilatihi Juz : 4 Hal : 287

حكم اللحم كالضحايا، يؤكل من لحمها، ويتصدق منه، ولا يباع شيء منها. ويسن طبخها، ويأكل منها أهل البيت وغيرهم في بيوتهم، وكره عند المالكية عملها وليمة يدعو الناس إليها. ويجوز عند المالكية: كسر عظامها، ولا يندب. وقال الشافعية والحنابلة:يجوز اتخاذ الوليمة، ولا يكره كسر العظام، إذ لم يثبت فيه نهي مقصود، بل هو خلاف الأولى
  {فقه الإسلام وأدلته الجز:4 ص:287}
Artinya :

Hukum daging Aqiqoh sma seperti hukum daging qurban dalam hal pentashorufanya , yaitu boleh di makan kemudian di sedekahkan dan tidak boleh menjual apapun dari bagian aqiqoh tersebut . Dan disunahkan memasak daging Aqiqoh kemudian memberikanya kepada Ahli Bait beserta orang orang di dalamnya . menurut Madzhab Malikiah makruh hukumnya menjadikanya makanan untuk walimah yang mengundang banyak orang , dan menurut Mazhab Malikiah boleh memecahkan tulang hewah Aqiqoh tetapitidak sunnah . Dan berkata Ulama Madzhab Syafi’iyyah dan Hanabilah , memperbolehkan membuat walimah dari Aqiqoh dan tidak di makruhkan memecahkan tulangnya karena tidak adanya larangan yang di maksud , akan tetapi hal tersebut ( walimah dari daging aqiqoh ) termasuk kurang Baik menurut syara’         ( Khilaful Aula )



Fiqih Al Islam Wa Adilatihi Juz : 4 Hal : 287
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Islam Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger