17 ILMU YANG HARUS DIKUASAI AGAR BISA MEMAHAMI AL QUR'AN DENGAN BENAR

17 ILMU YANG HARUS DIKUASAI AGAR BISA MEMAHAMI AL QUR'AN DENGAN BENAR


Dewasa ini banyak kalangan yang sering berstetmen dengan berdalil dengan Al qur’an , dan bahkan dengan bangga dan suara yang lantang menggunakan jargon “ kembali kepada al Qur’an , namun stetmen tersebut terkadang tidak diimbangi dengan pengetahuan yang benar dari memahami isi Al qur’an itu sendiri sehingga malah menjadi rancu dan seolah memaksakan kehendak nafsu untuk menentukan sebuah hukum yang bersumber dari Al qur’an bahkan sampai pada titik yang sangant memprihatinkan dengan mengkafirkan , membid’ahkan dan menyesatkan hanya karena salah dan kurang bisa memahami ilmu untuk mengambil hukum secara langsung dari al qur ‘an .

Dalam artikel ini kami akan menghadirkan 17 ilmu  yang harus dikuasai agar bisa memahami Al qur’an dengan benar , 17 ilmu itu adalah :

1.     Ilmu Mawathin al-Nuzul. Yaitu ilmu yang menerangkan tempat-tempat turunnya ayat, masanya, awal dan akhirnya. Kitab yang membahas ilmu ini banyak. Diantaranya ialah al-Itqan, tulisan al-Suyuthi.
2.     Ilmu Tawarikh al-Nuzul. Yaitu ilmu yang menerangkan dan menjelaskan masa turun ayat dan tertib turunnya, satu demi satu, dari awal turun hingga akhirnya, dan tertib turun surat dengan sempurna.
3.     Ilmu Asbab al-Nuzul. Yaitu ilmu yang menerangkan sebab-sebab turun ayat. Diantara kitabyang menjelaskan hal ini ialah Lubab al-Nazul karangan al-Suyuthi.
4.     Ilmu Qira'at. Yaitu ilmu yang menerangkan rupa-rupa Qira'at ( bacaan   al-Qur'an yang diterima dari Rasulullah SAW). Seindah-indah kitab untuk mempelajari ilmu ini ialah kitab al-Nasyr Fi Qira'at al-Asyr, tulisan Ibnu Jazary.
5.     Ilmu Tajwid. Ilmu yang menerangkan cara membaca al-Qur'an, tempat mulai dan pemberhentiannya, dan lain-lain yang berhubungan dengan itu.
6.     Ilmu Gharib Al-Qur'an. Ilmu yang menerangkan makna kata-kata yang ganjil yang tidak terdapat dalam kitab-kitab biasa, atau tidak terdapat dalam percakapan sehari-hari. Ilmu ini menerangkan makna kata-kata yang halus, tinggi, dan pelik.
7.     Ilmu I'rabil Qur'an. Ilmu yang menerangkan baris al-Qur'an dan kedudukan lafal dalam ta'bir (susunan kalimat). Di antara kitab yang memenuhi kebutuhan dalam membahas ilmu ini ialah Imla al-Rahman, karangan Abdul Baqa al-Ukbary.
8.     Ilmu Wujuh wa al-Nazhair. Yaitu ilmu yang menerangkan kata-kata al-Qur'an yang banyakarti; menerangkan makna yang dimaksud pada satu-satu tempat. Ilmu ini dapat mempelajari dalam kitab Mu'tarak alAqran, karangan al-Suyuthi.
9.     Ilmu Ma'rifat al-Muhkam wa al-Mutasyabih. Ilmu yang menyatakan ayat-ayat yang dipandang muhkam dan ayat-ayat yang dianggap mutasyabih. Salah satu kitab mengenai illmu ini ialah al-Manzhumah al-Sakhawiyah, susunan Imam al-Sakhawy.
10.                      Ilmu al-Nasikh wa al-Mansukh. Yaitu ilmu yang menerangkan ayat-ayat yang dianggap mansukh oleh sebagian mufassir. Untuk mempelajari ilmu ini dapat dibaca kitab al-Nasikh wa al-Mansukh, susunan Abu Ja'far al-Nahhas dan al-Itqan karangan al-Suyuthi.
11.                      Ilmu Bada'i al-Qur'an. Ilmu yang membahas keindahan-keindahan al-Qur'an. Ilmu ini menerangkan kesusasteraan al-Qur'an, kepelikan-kepelikan dan ketinggian-ketinggian balaghah-nya. Untuk ini dapat juga dibaca kitab al-Itqan karangan al-Suyuthi.
12.                      Ilmu I'daz al-Qur'an. Yaitu ilmu yang menerangkan kekuatan susunan tutur al- Qur'an, sehingga ia dipandang sebagai mukjizat, dapat melemahkan segala ahli bahasa Arab. Kitab yang memenuhi keperluan ini ialah I’jaz al-Qur'an, karangan al-Baqillany.
13.                      Ilmu Tanasub Ayat al-Qur'an. Ilmu yang menerangkan persesuaian antara suatu ayat dengan ayat sebelum dan sesudahnya. Kitab yang memaparkan ilmu ini ialah"Nazhmu al-Durar" karangan Ibrahim al-Riqa'iy.
14.                      Ilmu Aqsam al-Qur'an. Yaitu ilmu yang menerangkan arti dan maksud-maksud sumpah Tuhan atau sumpah-sumpah lainnya yang terdapat di dalam al-Qur'an.
15.                      Ilmu Amtsal al-Qur'an. Ilmu yang menerangkan segala perumpamaan yang ada dalam al-Qur'an. Kitab yang dapat dipelajari untuk ilmu ini antara lain Amtsal al-Qur'an, karangan al-Mawardi.
16.                      Ilmu Jidal al-Qur'an. Ilmu untuk mengetahui rupa-rupa debat yang dihadapkan al- Qur'an kepada kaum musyrikin dan lain-lain. Ayat-ayat yang mengandung masalah ini dikumpulkan oleh Najamuddin al- Thusy.
17.                      Ilmu Adab al-Tilawah al-Qur'an. Yaitu ilmu yang mempelajari segala bentuk aturan yang harus dipakai dan dilaksanakan di dalam membaca al-Qur'an. Segala kesusilaan, kesopanan dan ketentuan yang harus dijaga ketika membaca al-Qur'an. Salah satu kitab yang amat baik dalam hal ini ialah kitab Al-Tibyan, karangan al-Nawawy.

Sumber :
Top of Form


Amalan Yang Pahalanya Sampai Kepada Mayit

     Amalan Yang Pahalanya Sampai Kepada Mayit

     

      Pertanyaan : 

     Kalimah thoyyibah / amalan apa saja yang pahalanya bisa sampai kepada`arwah ahli waris yang sudah meninggal , aqpakah sholat , wirid , jama’ah dll bisa dihadiahkan kepada mayit , karena kebiasaanya yang dihadiahkan hanya tahlil saja , apakah ada amalan yang lain  yang lebih baik ?

 (Ranting  NU Bungasrejo)

Jawab :

Semua amal ibadah orang yang masih hidup baik ibadah badaniyah maupun maliyah bisa sampai dan bermanfaat kepada mayit apabila diniatkan / di hadiahkan kepada mayit .

Ibarat :

Fathul Wahab Juz : II Hal : 31 Maktabah Syamilah
Fatawi Ibnu Taimiyyah Juz 24 Hal : 178   

( وينفعه ) أي الميت من وارث وغيره ( صدقة ودعاء ) بالإجماع وغيره  وأما قوله تعالى { وأن ليس للإنسان إلا ما سعى } فعام مخصوص بذلك  وقيل منسوخ وكما ينتفع الميت بذلك ينتفع به المتصدق والداعي  أما القراءة فقال النووي في شرح مسلم المشهور من مذهب الشافعي أنه لا يصل ثوابها إلى الميت  وقال بعض أصحابنا يصل وذهب جماعات من العلماء إلى أنه يصل إليه ثواب جميع العبادات من صلاة وصوم وقراءة وغيرها وما قاله من مشهور المذهب محمول على ما إذا قرأ لا بحضرة الميت ولم ينو ثواب قراءته له أو نواه  ولم يدع بل قال السبكي الذي دل عليه الخبر بالاستنباط أن بعض القرآن إذا قصد به نفع الميت نفعه وبين ذلك وقد ذكرته في شرح الروض
 ﴿ فتح الوهاب ج :2 ص : 31
Bisa memberikan kemanfaatan kepada mayit pahala shodaqoh dan do’a dari ahli waris dan lainya berdasarkan kesepakatan ulama’  dan lainya . adapun firman Allah “ tidak untuk manusia kecuali apa yang dilakukanya sendiri “  ayat tersebut berma’na umum yang dikhususkan dan dikatakan ayat tersebut telah dihapuskan hukumnya . dan seperti halnya mayit mendapatkan kemanfaatan begitu juga orang yang bersedekahdan mendo’akan , adapun bacaan al  Qur’an Imam Nawawi berkata dalamkitab Syarah Muslim : pndapat ang masyhur dari madzhab Imam Syafi’i bahwa pahala bacaan alqur’an tidak sampai kepada mayit .  sebagian ulama’ kita berkata : pahalanya sampai . segolongan ulama berpendapat bahwa pahala semua ibadah baik sholat , puasa , bacaan al qur’an dll sampai kepada mayit . apa yang dikatakan Imam Nawawi dari pendapat yang masyhur berhenti ketika bacaan tersebut tidak didekat mayit ( kuburan mayit ) dan tidak diniatkan pahalanya untuk simayit atau diniatkan tetapi tidak dido’akan . bahkan As Subki berkata : perkara yang menunjukan riwayat dengan mengambil tendensi dari sebagian al qur’an ketika ada tujuan maka bermanfaat bagi mayit dan saya telah menyebutkanya dalam kitab syarah Raudhoh .
Fathul Wahab Juz : 2 Hal : 31
يجوز إهداء ثواب العبادات المالية والبدنية إلى موتى المسلمين. كما هو مذهب أحمد وأبي حنيفة، وطائفة من أصحاب مالك والشافعي. ﴿ فتاوى ابن تيمية ج : 24 ص : 178
Boleh menghadiahkan pahala ibadah baik berupa maliyah maupun badaniyah kepada mayit muslim seperti madzhab  Ahmad Bin Hambal dan abi Hanifah dan segolongan dari madzhab Maliki dan Syafi’i .

Fatawi Ibnu  Taimiyah : 24 :  178


Hukum Wudhu Dalam Keadaan Telanjang

Hukum Wudhu Dalam Keadaan Telanjang


1.      Kados pundi hukumipun wudlu ‘uryanan ( kanthi udho ) ?
Jawab :

Wundlu kanthi keadaan ‘uryanan ( kanthi udho ) meniko hukumipun makruh

Ibarat :

Hasyiyyah Ad Dasuqiy Juz : I Hal : 104
واما مكروهاته : فالإكثر من صب الماء ، وكثرة الكلام فى غير ذكر الله ، والزيادة على الثلاثة فى المغسول ،وعلى واحدة فى الممسوح على الراجح ، واطالة الغرة ، ومسح الرقبة والمكان الغير الطاهر ، وكشف العورة ، والله أعلم
( حاشية الداسوقى الجزاء : الأوال ص : 104 )
Diantara  kemakruhanya  wudhu adalah , berlebihan dalam meyiramkan air , berbicara selain dzikir kepada Allah , menambah lebih dari tiga kali basuhan , mengusaplebih dari satu kali menurut pendapat yang rojih , memanjangkan siraman , membasuh lehaer dan anggota yang tidak suci , membuka aurat , wallahu a’lam .

Hasyiyah Ad Dasuqiy Juz : 1 Hal : 104 

Hukum Wanita Membaca Maulid , Al Qur'an dengan Menggunakan Pengeras Suara

     Hukum Wanita Membaca Maulid , Al Qur'an dengan Menggunakan Pengeras Suara

          







           Deskripsi

Sudah tradisi warga NU , setiap hajatan mendatangkan Yasinan , Berjanzi , Tahlil dan Tahtimul Qur’an . jikalau yang membaca Yasin , Tahlil dsb  laki laki mungkin tidak masalah , bila myang membaca muslimat / fatayat dengan suara lantang bahkan menggunakan pengeras suara tentu akan timbul persepsi yang lain.

Pertanyaan :

1.       Hukum Tahlil , Yasinan dll bagi wanita yang menggunakan pengeras suara ?
2.       Sejauh mana suara wanita bisa menimbulkan fitnah ?
3.       Kalimat ‘ Wih apik’ e suarane apakah termasuk fitnah ?
( Ranting NU Dukuhmulyo )
Jawaban :
1.       Hukum Tahlil , Yasinan dll bagi wanita yang menggunakan pengeras suara adalah boleh selagi tidak menimbulkan fitnah.
Ibarat :
1.    I’anatut Tholibin Juz : 3 Hal: 302

حاشية إعانة الطالبين (3/  302)
(قوله: وليس من العورة الصوت) أي صوت المرأة، ومثله صوت الامرد فيحل سماعه ما لم تخش فتنة أو يلتذ به وإلا حرم (قوله: فلا يحرم سماعه) أي الصوت. وقوله إلا إن خشي منه فتنة أو التذ به: أي فإنه يحرم سماعه، أي ولو بنحو القرآن، ومن الصوت: الزغاريد. وفي البجيرمي: وصوتها ليس بعورة على الاصح، لكن يحرم الاصغاء إليه عند خوف الفتنة.
Perkataan : tidak termasuk aurat adalah suara perempuan semisal suara amrod ( mendekati balig ) maka halal mendengarkanya apabila tidak khawatir fitnah atau merasa nyaman ( enak ) .apabila khawatir fitnah maka haram mendengarkanya . perkataan : tidak haram mendengarkanya : pekataan kecuali takut terjadi fitnah atau merasa nyaman dengan suara tersebut maka haram mendengarkanya walaupun dari bacaan Al qur’an. Termasuk suara adalah jeritan . dalam kitab Al Bujairomi : suara perempuan tidak termasuk aurat menurut pendapat yang Ashoh akan tetapi haram memperhatikan suara tersebut ketika khawatir terjadi fitnah .
I’anatut Tholibin Juz : 3 Hal: 302

2.       Suara wanita yang bisa menimbulkan fitnah adalah yang bisa membangkitkan syahwat dan menjadi penyebab  perbuatan zina
Ibarat :
1.    Asnal Matholib Juz : 3 Hal : 110
2.   Nihayatul Muhtaz Ila Syarhil Minhaj Juz : 20 Hal : 186
أسنى المطالب في شرح روض الطالب (3/  110)
قال الْجَوْهَرِيُّ وَالتَّشْوِيشُ التَّخْلِيطُ أَمَّا النَّظَرُ وَالْإِصْغَاءُ لِمَا ذُكِرَ عِنْدَ خَوْفِ الْفِتْنَةِ أَيْ الدَّاعِي إلَى جِمَاعٍ أو خَلْوَةٍ أو نَحْوِهِمَا فَحَرَامٌ وَإِنْ لم يَكُنْ عَوْرَةً لِلْإِجْمَاعِ وَلِقَوْلِهِ تَعَالَى قُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ من أَبْصَارِهِنَّ وَقَوْلِهِ قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا من أَبْصَارِهِمْ
Al Jauhari berkata : At taswisy adalah bercampur adapun melihat dan memperhatikan apa yang di sebutkan ketika khawatir terjadi fitnah yaitu perkara yang menarik pada jima’ ( hubungan intim ) atau kholwah ( mojok ) dst maka haram meskipun bukan termasuk auratsesuai kesepakatan ulama’ berdasarkan firman Allah ta’alah “katakanlah wahai Muhammad kepada wanita mu’min agar menundukan pandanganya “ dan juga firman Allah :” katakanlah wahai Muhammad kepada pria mu’min agar menundukan pandanganya”
Asnal Matholib Juz : 3 Hal : 110

نهاية المحتاج إلى شرح المنهاج (20/  186)
( قَوْلُهُ : مِنْ دَاعِيَةٍ نَحْوَ مَسٍّ ) يُؤْخَذُ مِنْهُ أَنَّ ضَابِطَ خَوْفِ الْفِتْنَةِ أَنْ يَخَافَ أَنْ تَدْعُوهُ نَفْسُهُ إلَى مَسٍّ لَهَا أَوْ خَلْوَةٍ بِهَا
Perkataan : dari perbuatan yang mengajak semisal menyentuh : dari sini dapat disimpulkan bahwa pengertian khawatir fitnah adalah kehawatiran pada dirinya tertarik untuk menyentuh perempuan tersebut atau kholwah ( mojok ) dengannya .
Nihayatul Muhtaz Ila Syarhil Minhaj Juz : 20 Hal : 186

3.       Tafsil :
1.     Bila menimbulkan syahwat maka termasuk fitnah
2.     Bila tidak menimbulkan syahwat maka tidak termasuk fitnah

Ibarat  : Sama dengan ta’bir nomor 2 

Hukum Jum'atan Yang Khutbahnya Tidak Terdengar Oleh Jama'ah

         Hukum Jum'atan Yang Khutbahnya Tidak Terdengar Oleh Jama'ah





           Pertanyaan:

Bagaimana hukum jum’atan yang khutbahnya tidak terdengar oleh para jama’ah ( termasuk rukun khutbah ) karena pengeras suaranya rusak dan tidak berfungsi atau karena suara yang mantul ( bergaung ) sah atau tidak jum’atan tersebut ?
kanthi normal) utawi keranten suwantenipun ingkang mantul, sah punopo mboten jum’atanipun?
(Ranting Nu Sidomulyo)

Jawaban:

Jum’atan dalam keadaan seperti pertanyaan diatas tetap dihukumi sah apabila dalam berkhutbah sang khotib sudah mengeraskan suaranya yang pada umumnya bisa didengarkan oleh 40 orang .

Ibarat:

قَوْلُهُ : ( وَإِسْمَاعُ الْأَرْبَعِينَ ) أَيْ بِالْفِعْلِ بِأَنْ يَكُونَ صَوْتُ الْخَطِيبِ مُرْتَفِعًا يَسْمَعُهُ الْحَاضِرُونَ لَوْ أَصْغَوْا  هَذَا فِي الْإِسْمَاعِ ، وَأَمَّا السَّمَاعُ مِنْهُمْ فَبِالْقُوَّةِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ مَرْحُومِيٌّ وَمِثْلُهُ ق ل . وَعِبَارَةُ ق ل : وَإِسْمَاعُ الْأَرْبَعِينَ بِأَنْ يَرْفَعَ صَوْتَهُ بِقَدْرِ مَا يَسْمَعُونَ وَإِنْ لَمْ يَسْمَعُوا لِوُجُودِ لَغَطٍ ؛ قَالَ شَيْخُنَا : أَوْ نَوْمٍ بِخِلَافِهِ لِصَمَمٍ أَوْ بُعْدٍ ا هـ .
 (حاشية البجيرمي على الخطيب الجز: 5 ص:351)
   
Perkataan : bisa didengar 40 orang , yaitu dengan mengeraskan suara khotib sehingga bisa didengar yang hadir apabila mereka mendengarkanya , memberi dengar mereka dengan maksimal menurut pendapat yang mu’tamad . ibarat dari Syihabu Din , bisa didengar 40 orang adalah dengan mengeraskan suaranya sebatas mereka bisa mendengar meski merika tidak bisa mendengar karena gaduh . shakhuna berkata , atau karena tertidur berbeda dengan karena tuli atau jauh .

Hasyiyah Al Bujairomi Ala Khotib Juz : 5 Hal : 351

( وشرط فيهما ) أي الخطبتين أمور سبعة ( إسماع أربعين ) إلى أن قال ....والمراد إسماعهم بالفعل بأن يرفع الخطيب صوته بحيث يسمعه الحاضرون لو أصغوا وأما السماع منهم فبالقوة وإن لم يسمعوا بالفعل لوجود لغط أو نوم خفيف (نهاية الزين ص:140)

Dissyaratkan dalam dua khutbah tujuh perkara : bisa didengar 40orang ...... yang di maksud bisa didengar 40 orang adalah dengan perbuatan atau dengan cara mengeraskan suara khotib sehingga orang yang hadir bisa mendengarnya apabila mereka memperhatikan adapun pendengaran dari mereka yaitu dengan sebatas kemampuan maksimal  mendengar mereka meskipun tidak dapat mendengar dengan pendengaranya karena gaduh atau ngantuk .

Nihayatuz Zain Hal : 140

Sa'at Qunut Nazilah Yang Baik Tangan Dibalik Keatas atau Kebawah ????

     Sa'at Qunut Nazilah Yang Baik Tangan Dibalik Keatas atau Kebawah ????



              Pertanyaan:
Membaca do’a qunut nazilah , ketika sampai kalimat tolak balak , yang baik tangan dibalik kebawah atau tidak ?
 (Ranting NU Sidomulyo)

Jawaban:

Apabila bala’nya belum terjadi yang terbaik telapak tangan menghadap keatas , apabila bala’nya sudah terjadi maka  yang terbaik adalah membalik telapak tangan kearah bawah .

Ibarat:

1.       Asnal Matholib Juz : 4 Hal : 174
2.       Fathul Mu’in
3.       Sittina Masalah Hal : 53

قَالَ الْعُلَمَاءُ وَالسُّنَّةُ أَنْ يُشِيرَ بِظَهْرِ كَفَّيْهِ إلَى السَّمَاءِ فِي كُلِّ دُعَاءٍ لِرَفْعِ بَلَاءٍ وَبِبَطْنِهِمَا إنْ سَأَلَ شَيْئًا ) أَيْ تَحْصِيلَهُ {  لِأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَسْقَى وَأَشَارَ بِظَهْرِ كَفَّيْهِ إلَى السَّمَاءِ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ وَقِيسَ بِالِاسْتِسْقَاءِ مَا فِي مَعْنَاهُ وَالْحِكْمَةُ أَنَّ الْقَصْدَ رَفْعُ الْبَلَاءِ بِخِلَافِ الْقَاصِدِ حُصُولَ شَيْءٍ فَيَجْعَلُ بَطْنَ كَفَّيْهِ إلَى السَّمَاءِ (أسنى المطالب الجز:4 ص:174 المكتبة الشاملة)
Ulama’ berkata : kesunahanya adalah menghadapkan belakang telapak tangan kearah langit pada setiap do’a untuk tolak bala’ dan dengan telapak tangandi atas ketika meminta sesuatu , karena Nabi berdo’a meminta hujan dengan membalik telapak tanganya HR Muslim . disamakan dengan istisqo’ do’a yang senada , adapun hikmahnya adalah kerena bertujuan menghilangkan bala’ berbeda dengan bertujuan menghasilkan sesuatu maka dengan menengadahkan telapak tangan kearah langit .
Asnal Matholib Juz : 4 Hal :  174

(رافعا يديه) حذو منكبيه ولو حال الثناء، كسائر الادعية، للاتباع، وحيث دعا لتحصيل شئ، كدفع بلاء عنه في بقية عمره، جعل بطن كفيه إلى السماء. أو لرفع بلاء وقع به جعل ظهرهما إليها. (فتح المعين)
Mengangkat kedua tangan sebatas pundak meski dalam do’a tsana’ seperti berbagai do’a karena ikut Nabi , dan apabila berdo’a untuk menghasilkan sesuatu seperti tolak bala’ pada sisa umurnya maka menghadapkan telapak tangan kearah langit atau untuk menolak bala’ yang sedang terjadi maka membalik telapak tangan .

Fathul Mu’in

(قوله رفع يديه) ويسن لكل داع رفع بطن يديه إلى السماء إن دعا بتحصيل شيئ وظهورهما إليها إن دعا برفعه أو عدم حصوله فيجعل ظهرهما إلى السماء عند قوله وقنى شرما قضيت (ستين مسئلة ص:53)
Perkataan : mengangkat kedua tangan , disunahkan bagi setiap orang yang berdo’a  mengangkat telapak tanganya kearah langit ketika meminta sesuatu dan membalik telapak tanganya ketika berdo’a menghilangkan sesuatu atau tidah menghasilkan sesuatu . membalik telapak tangan ketika sampai pada ucapan WAQINI SYARROMA QODOIT .


Sittina Masalah hal : 53

Hukum Bunga Deposito

     Hukum Bunga Deposito 


             Diskripsi Masalah :

Sebagaimana kita ketahui, saat terjadi transaksi antara deposan (penabung) dengan bank saat deposant mendepositokan uang, sama sekali tidak disinggung mengenai besaran bunga, tetapi umumnya depositor faham tentang besaran bunga yang nanti akan masuk ke rekeningnya.

Pertanyaan:

Halalkah bunga deposito tersebut bagi depositor?

(Ranting NU Tanjungsari)

 Jawaban:

Bunga deposito tersebut dihukumi Halal

Ibarat :


1.     I'anatu al-Thalibin, Juz III, 53
2.    Bughyatu al-Mustarsyidin, Hlm. 176
3.    Al-Asybah wa an-Nadhair, Hlm. 61
      
وَاَمَّا الْقَرْضُ بِشَرْطِ جَرِ نَفْعٍ لِمُقْرِضٍ فَفَاسِدٌ قال ع ش: وَمَعْلُومٌ أَنَّ مَحَلَّ الْفَسَادِ إذَا وَقَعَ الشَّرْطُ فِي صُلْبِ الْعَقْدِ أَمَّا لَوْ تَوَافَقَا عَلَى ذَلِكَ وَلَمْ يَقَعْ شَرْطٌ فِي الْعَقْدِ فَلاَ فَسَادَ وَجُبِرَ ضُعْفُهُ مَجِىْءَ مَعْنَاهُ عَنْ جَمْعٍ مِنَ الصَّحَابَةِ. وَمِنْهُ الْقَرْضُ لِمَنْ يَسْتَأْجِرُ مِلْكَهُ أَىْ مَثَلاً بِأَكْثَرَ مِنْ قِيْمَتِهِ ِلأَجْلِ الْقَرْضِ إنْ وَقَعَ ذَلِكَ شَرْطًا إذْ هُوَ حِيْنَئِذٍ حَرَامٌ إجْمَاعًا وَإلاَّ كُرِهَ عِنْدَنَا وَحَرَامٌ عِنْدَ كَثِيْرٍ مِنَ الْعُلَمَاءِ قَالَهُ السُّبْكِى.﴿ إعانة الطلبين ج : ٣ ص : ٥٣ ﴾
Adapun hutang dengan syarat menarik kemanfataan untuk yang menghutangi adalah akad yang rusak ,        As Sabromilisi berkata : sudah ma’lum bahwa tempat kerusakan adalah ketika syarat tersebut di lakukan pada waktu akad , adapun ketika terjadi kesepakatan dan tidak di tetapkan persyaratan pada waktu terjadi akad maka tidak merusak akad adapun kelemahannya sudah digantikan dengan ma’nanya menurut kesepakatan Ulama, termasuk akad yang rusak adalah hutang bagi orang yang menyewakan miliknya  dengan harga yang lebih tinggi dari harganya karena dihutang ketika syarat tersebut dikatakan dimajlis akad maka hkumnya haram menurut kesepakatan Ulama’ dan apabila tidak di majlis akad maka hukumnya makruh menurut pendapat saya dan haram menurut mayoritas ulama’ berdasarkan peryataan As Subki .
I’anatut Tholibin Juz : 3 Hal : 53

(مَسْئَلَةُ ب) مَذْهَبُ الشَّافِعِىِّ اَنَّ مُجَرَّدَ الْكِتَابَةِ فِى سَائِرِ الْعُقُوْدِ وَاْلإِخْبَارَاتِ وَاْلإِنْشَأَتِ لَيْسَ بِحُجَّةٍ شَرْعِيَّةٍ.
﴿ بغية المسترشدين ص : ١٧٦﴾
( Masalah ba’ ) menurut madzhab Syafi’i tulisan dalam setiap akad , peryataan dan berita acara tidak termasuk dalam dalil yang syar’i
Bugyatul Mustarsyidin Hal : 176

الْعَادَةُ الْمُطَّرِدَةُ فِي نَاحِيَةٍ، هَلْ تُنَزَّلُ عَادَتُهُمْ مَنْزِلَةَ الشَّرْطِ، فِيهِ صُوَرٌ. اِلَى اَنْ قَالَ... وَمِنْهَا: لَوْ جَرَتْ عَادَةُ الْمُقْتَرِضِ بِرَدِّ أَزْيَدَ مِمَّا اقْتَرَضَ، فَهَلْ يُنَزَّلُ مَنْزِلَةَ الشَّرْطِ، فَيَحْرُمُ إقْرَاضُهُ وَجْهَانِ، أَصَحُّهُمَا: لاَ. اهـ ﴿ الأشباه والنظائر ص : ٦١
Kebiasan ( adat ) yang terjadi di satu daerah , apakah kebiasaan tersebut dapat menempati tempatnya syarat ? dalam permasalahan ini ada beberapa gambaran ..... diantaranya apabila sudah berlaku kebisaan orang yang berhutang membayar lebih dari barang yang dihutang , apakah hal tersebut bisa menempati tempatnya syarat lalu menyebabkan haramnya menghutangi , ada dua wajah yang paling benar adalah tidak .


Asbah Wan Nadhoir Hal : 61 

catatan : 
       Musyawirin lebih memilih yang memperbolehkan bunga deposito dengan argumen di atas , dan tidak mencantumkan yang mengharamkan beserta argumenya . 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Islam Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger