Showing posts with label BIografi Ulama. Show all posts
Showing posts with label BIografi Ulama. Show all posts

KH. Sholeh bin Umar As-Samarani (Mbah Sholeh Darat)

KH. Sholeh bin Umar As-Samarani (Mbah Sholeh Darat)




 KH. Sholeh bin Umar As-Samarani atau yang dikenal dengan sebutan (Mbah Sholeh Darat)salah satu ulama' kharismatik di semarang. Nama lengkapnya adalah Muhammad Saleh bin Umar As-Samarani, yang dikenal dengan sebutan Mbah Soleh Darat, hidup sezaman dengan Syekh Nawawi Banten dan Syekh Kholil Bin Abdul Latif Bangkalan Madura, lahir di Kedung Cemlung, Jepara pada tahun 1235 H./1820 M., dan wafat di Semarang pada hari Jum’at 29 Ramadhan 1321 H. atau 18 Desember 1903 M. Ketiga ulama yang berasal dari Jawa itu juga sezaman dan seperguruan di Mekah dengan beberapa ulama dari Patani diantaranya adalah Syekh Muhammad Zain bin Mustafa Al-Fathani (Lahir 1233 H./1817 M., wafat 1325 H./1908 M.). Mereka juga seperguruan di Makkah dengan Syekh Amrullah (Datuk Prof. Dr. Hamka) dari Minangkabau, Sumatera Barat. 

 JEJAK PENDIDIKAN MBAH SALEH DARAT 

Jejak pendidikan beliau dimulai dari ayahnya Kyai Haji Umar yang merupakan pejuang Islam yang pernah bergabung dengan pasukan Pangeran Dipone-goro, meliputi ilmu dasar-dasar agama Islam, kemudian beliau belajar kepada Kyai Haji Syahid, ulama besar di Waturoyo, Pati, Jawa Tengah. Sesudah itu beliau di-bawa ayahnya ke Semarang untuk belajar kepada beberapa ulama, diantaranya adalah Kyai Haji Muhammad Saleh Asnawi Kudus, Kyai Haji Ishaq Damaran, Kyai Haji Abu Abdillah Muhammad Hadi Banguni (Mufti Semarang), Kyai Haji Ahmad Bafaqih Ba’alawi, dan Kyai Haji Abdul Ghani Bima. Ayahnya Kyai Umar sangat berharap agar anaknya kelak menjadi ulama yang berpengetahuan sekaligus ber-pengalaman, karena pengetahuan tanpa adanya pengalaman adalah kaku, sebaliknya berpengalaman tanpa pengetahuan yang cukup adalah ibarat tumbuh-tumbuhan yang hidup di tanah yang gersang, karena seseorang yang mempunyai pengalaman dan penge-tahuan yang banyaklah yang diperlukan oleh masyarakat Islam sepanjang zaman. Oleh hal itulah ayahnya mengajaknya merantau ke Singapura. Beberapa tahun kemudian, bersama ayahnya, beliau berangkat ke Makkah untuk menunaikan ibadah hadi sekaligus tinggal disana untuk mendalami berbagai ilmu kepada beberapa ulama di Makkah pada zaman itu, diantaranya adalah: Syekh Muhammad Al-Muqri, Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah Al-Makki, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syekh Ahmad Nahrowi, Sayyid Muhammad Saleh bin Sayyid Abdur Rahman Az-Zawawi, Syekh Zahid, Syekh Umar Asy-Syami, Syekh Yusuf Al-Mishri dan Syekh JamAl-(Mufti Madzhab Hanafi). Setelah beberapa tahun berkelana mencari ilmu, tibalah saatnya beliau diberikan izin untuk mengajar di Makkah, banyak muridnya yang berasal dari Tanah Jawa dan Melayu. Setelah menetap di Makkah selama beberapa tahun untuk belajar dan mengajar, Mbah Saleh Darat terpanggil hatinya untuk pulang ke Semarang karena bertanggung jawab dan ingin ber-khidmat terhadap tanah tumpah darah sendiri. “Hubbul wathan minAl-Iman” yang artinya cinta tanah air sebagian dari iman. Itulah yang menyebabkan beliau harus pulang ke Semarang.

 MENDIRIKAN PONDOK PESANTREN 

Sebagaimana tradisi ulama dunia Melayu terutama ulama Jawa dan Patani pada zaman itu, bahwa setelah pulang dari Makkah harus mendirikan pusat pengajian berupa Pondok Pesantren. Mbah Saleh mendirikan pondok pesantren di pesisir kota Semarang. Sejak itulah beliau dipanggil orang dengan gelar Kyai Saleh Darat Semarang. Terkenal sebagai pendiri pesantren nama beliau semakin berkibar di seantero Jawa, terutama Jawa Tengah. Diantara murid-murid beliau yang menjadi ulama tersohor adalah: 

1. KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdlatul Ulama)
2. Syekh Mahfudz At-Turmusi (Ulama Besar Madz-hab Syafi’i yang ahli dalam bidang hadits).
3. KH. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah)
4. KH. Bisri Syamsuri (Pendiri Pesantren Mamba’ul Ma’arif Jombang).
5. KH. Idris (Pendiri Pondok Pesantren Jamsaren, Solo)
6. KH. Sya’ban (Ulama Ahli Falak di Semarang)
7. KH. Dalhar (Pendiri pondok pesantren Watuco-ngol Muntilan, Magelang).
8. Raden Ajeng Kartini, yang menjadi simbol kebang-gaan kaum wanita Indonesia.

Yang mengagumkan dari kesekian murid beliau, ada tiga orang yang disahkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia, yaitu KH. Ahmad Dahlan (1868–1934 M.), dengan Surat Keputusan Pemerintah RI, No. 657, 27 Desember 1961, Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari (1875–1947 M.), dengan Surat Keputusan Presi-den RI, No. 294, 17 November 1964, Raden Ajeng Kartini (1879–1904 M.), dengan Surat Keputusan Presiden RI, No. 108, 12 Mei 1964. 

GORESAN PENA MBAH SALEH DARAT 

Diantara karya-karya Mbah Saleh yang terlahir dari tangan kreatifnya adalah:

1. Majmu’ah Asy-Syari’ah Al-Kafiyah li Al-Awam, kandungannya membicarakan ilmu syari’at untuk orang awam.
2. Al-Hakim, kandungannya tentang ilmu tasawuf, yang merupakan petikan-petikan penting dari kitab Hikam karya Syekh Ibnu Atho’ilah As-Sakandari.
3. Kitab Munjiyat, kandungannya tentang ilmu tasawuf, yang merupakan petikan penting dari kitab Ihya’ Ulumuddin karya Al-Ghazali.
4. Kitab Batha’if At-Thaharah, kandungannya mem-bicarakan tentang hukum bersuci.
5. Kitab Faidhir Rahman, kandungannya merupakan terjemahan dari tafsir Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa. Kitab ini merupakan terjemahan dari tafsir Al-Qur’an yang pertama dalam bahasa Jawa di dunia Melayu. Menurut riwayat, satu naskah kitab tafsir tersebut pernah dihadiahkan kepada RA. Kartini ketika mrnikah dengan RM. Joyodiningrat (Bupati Rembang).
6. Kitab Manasik Al-Hajj, kandungannya membicara-kan tentang tata cara mengerjakan haji.
7. Kitab Ash-Shalah, kandungannya membicarakan tentang tata cara sholat.
8. Terjemahan Sabil Al-‘Abid ‘Ala Jauharah At-Tauhid, kandungannya tentang aqidah Ahli Sunnah Wal Jama’ah, mengikut pegangan Iman Abu Hasan Al-Asy’ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi. 9. Mursyid Al-Wajiz, membahas tentang tasawuf dan akhlak.
10. Minhaj Al-Atqiya’, membahas tentang tasawuf dan akhlak.
11. Kitab Hadits Al-Mi’raj, membahas tentang perjala-nan Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Baitul Maqdis dan selanjutnya ke Mustawa menerima perintah sholat lima waktu sehari semalam. Kitab ini sama kandugannya dengan Kifayah Al-Muhtaj karya Syekh Daud Bin Abdullah Al-Fathani. 12. Kitab Asrar As-Shalah, membahas tentang rahasia-rahasia shalat. Hampir semua karya Mbah Saleh Darat ditulis dalam bahasa Jawa dan menggunakan huruf Arab (Pegon atau Jawi), hanya sebagian kecil yang ditulis dalam Bahasa Arab bahkan sebagian orang berpendapat bahwa orang yang paling berjasa menghidupkan dan menyebarluaskan tulisan pegon (tulisan Arab Bahasa Jawa) adalah Mbah Saleh Darat Semarang.

 Diposkan oleh Sya'roni As-Samfuriy di 10.32
 Sumber : https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi28WiAJY5wudlf68bvrCVozTfurl2gAThcI6r-4X74j97NKAUqqKUprmEn-ryLNKuW4v89Uk0O9TerfEdNM1EP5hFsy0R5TSlYNjEpYVHKKxHbRNmgowlxUyoWXAI_yoVM4K1vRY_6lWA/s1600/mbah+sholeh+darat.jpg

Biografi Imam Al-Baihaqi

Biografi Imam Al-Baihaqi


Imam Al Baihaqi adalah seorang ulama ahli fiqh, ushul fiqh, hadist, dan salah seorang ulama besar mazhab Syafi'i. Beliaulah penulis kitab Sunan Al Baihaqi yang terkenal itu.
kitab-hadits
Imam Al Baihaqi adalah seorang   ahli fiqh, ushul fiqh, hadist, dan salah seorang ulama besar mazhab Syafi’i. Beliaulah penulis kitab Sunan Al Baihaqi yang terkenal itu.
Imam Al-Baihaqi bernama lengkap Imam Al-Hafizh Al-Muttaqin Abu Bakar Ahmad bin Al-Husain bin Ali bin Musa Al-Khusrauijrdi Al-Khurasani Al-Baihaqi. Baihaq adalah sejumlah perkampungan di wilayah Naisabur. Beliau adalah seorang ulama besar dari Khurasan (desa kecil di pinggiran kota Baihaq) dan penulis banyak kitab terkenal.
Al-Baihaqi lahir di bulan Sya’ban tahun 384 H yang bertepatan dengan bulan September 994 Masehi. Lahir di desa Khusraujirdi, termasuk daerah Baihaq, Naisabur.
Imam Al-Baihaqi hidup pada masa Daulah Al-‘Abbasiyah. Beliau mengembara mencari ilmu ke Khurasan, Irak, dan Hijaz. Dalam Siyar A’lam An-Nubala, Imam Adz-Dzahabi bercerita tentang perjalanan Imam Al-Baihaqi dalam menuntut ilmu . Beliau mengatakan bahwa Imam Al-Baihaqi ketika berusia 15 tahun telah mendengar dari Abu Al-Hasan Muhammad bin Al-Husain Al-Alawi, sahabat dari Abu Hamid bin Asy-Syarqi dan beliau adalah guru yang paling dahulu bagi Imam Al-Baihaqi. Beliau luput dari menyimak secara langsung dari Abu Nu’aim Al-Isfarayini, sahabat Abu ‘Uwanah, dan meriwayatkan darinya secara ijazah mengenai jual beli. Beliau juga mendengar dari Imam Al-Hakim Abu Abdillah Al-Hafizh lalu memperbanyak riwayat darinya dan lulus darinya.
Guru Beliau
Beliau berguru kepada ulama-ulama terkenal dari berbagai negara. Beliau harus menempuh perjalanan panjang dan melelahkan untuk bisa menghadiri majelis ilmu tersebut. Di antara guru-gurunya adalah sebagai berikut:
  1. Imam Abul Hassan Muhammad bin Al-Husain Al-Alawi
  2. Abu Abdillah Al-Hakim, pengarang kitab Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihain
  3. Abu Tahir Az-Ziyadi
  4. Abu Abdur-Rahman Al-Sulami
  5. Abu Bakr bin Furik
  6. Abu Ali Al-Ruthabari
  7. Hilal bin Muhammad Al-Hafar
  8. Ibnu Busran
  9. Al-Hasan bin Ahmad bin Farras
  10. Ibnu Ya’qub Al-Ilyadi, dll.
Murid-Murid Beliau
Dalam kitab Siyar A’lamin Nubala (18/169), Imam Adz-Dzahabi mengatakan bahwa di antara perawi yang meriwayatkan dari beliau adalah:
  1. Syaikhul Islam Abu Ismail Al-Anshari dengan ijazah
  2. Putranya sendiri: Ismail bin Ahmad bin Al-Husain
  3. Cucu beliau: Abu Al-Hasan bin Ubaidillah bin Muhammad bin Ahmad
  4. Abu Zakariya Yahya bin Mandah Al-Hafidz
  5. Abu Ma’ali Muhammad bin Ismail Al-Farisi
  6. Abdul Jabbar bin Abdul Wahhab Ad-Dahhan
  7. Abdul Jabbar bin Muhammad Al-Khuwairi
  8. Abdul Hamid bin Muhammad Al-Khuwairi
  9. Abu Bakar Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman Al-Bahiri, dll.
Pujian Ulama Kepada Beliau
Imam Al-Haramain mengatakan, “Tidak ada satu pengikut Asy-Syafi’i pun melainkan Asy-Syafi’i memiliki jasa kepadanya, kecuali Al-Baihaqi, karena dia berjasa kepada Asy-Syafi’i berkat karya-karyanya yang berisikan pembelaan terhadap mazhabnya dan pendapat-pendapatnya.”
At-Taj As-Subki mengatakan, “Imam Al-Baihaqi adalah salah satu imam kaum muslimin dan penyeru kepada tali Allah yang kukuh. Beliau adalah penghafal besar, ahli ushul yang tiada bandingnya, zuhud, wara’, taat kepada Allah, membela mazhab, baik ushul maupun furu’-nya, salah satu bukit ilmu.”
Abdul-Ghaffar Al-Farsi Al-Naisaburi dalam bukunya “Dzail Tarikh Naisaburi” memuji imam Al-Baihaqi setinggi langit dengan mengatakan, “Abu Bakr Al-Baihaqi Al-Faqih Al-Hafizh Al-Ushuli Ad-Din Al-Wari’, orang nomor satu pada zamannya dalam hal hafalan, orang yang tiada bandingannya di antara para sejawatnya dalam hal kesempurnaan dan ketelitian, salah satu pemuka murid Al-Hakim, dan dia mengunggulinya dengan berbagai macam ilmu. Beliau menulis hadis, menghafalkannya semenjak kecil, mendalaminya, serta menguasainya. Beliau mengambil ilmu ushul dan melakukan perjalanan menuntu ilmu ke Irak, daerah berbukit dan Hijaz, kemudian menulis karya ilmiah. Karyanya hampir mencapai seribu juz, yang belum pernah didahului oleh seorang pun sebelumnya. Beliau menghimpun ilmu hadis dan fikih, menjelaskan tentang ‘illat hadis dan meninjau tentang perbedaan-perbedaan hadis-hadis. Para ulama meminta beliau untuk berpindah dari daerah An-Nahiyah ke Naisabur untuk mendengar kitab-kitabnya. Beliau pun datang padatahun 314 H, lalu mereka bermajelis untuk mendengarkan kitab Al-Ma’rifah dan para ulama menghadirinya. Dia mengikuti jalan ulama, merasa puasdengan yang sedikit.”
Imam Adz-Dzahabi pun memuji beliau dengan mengatakan, “Seandainya Al-Baihaqi mau membuat madzhab untuk dirinya di mana dia berijtihad, niscaya dia mampu melakukannya karena keluasan ilmu dan pengetahuannya tentang perselisihan ulama. Karena itu, kalian melihatnya membela permasalahan-permasalahan yang didukung oleh hadis sahih.”
Karya Beliau
Sejumlah kitab penting telah ditulisnya dan mempunyai nilai tinggi di sisi para ulama-ulama setelahnya. Bahkan ada yang berpendapat bahwa karyanya mencapai seribu jilid9. Kitab-kitab karangan beliau pun mempunyai keistimewaan dibandingkan yang lainnya, karena diurutkan dengan urutan yang begitu teliti dan cermat dan tidak ada yang seperti beliau. Karena itu tidak ada yang seperti beliau sebelumnya.
Di antara karya beliau:
  1. Kitab As-Sunan Al-Kubra dalam 10 jilid
  2. Kitab Syu’ab Al-Iman dalam 2 jilid
  3. Kitab Dala’il An-Nubuwwah dalam 4 jilid
  4. Kitab Al-Asma wa Ash-Shifat dalam 2 jilid
  5. Kitab Ahkam Al-Qur’an dalam 2 jilid
  6. Kitab Takhrij Ahadits Al-Umm
  7. Kitab Al-Ma’rifat fi As-Sunan wa Al-Atsar dalam 4 jilid
  8. Kitab Al-Mu’taqad dalam 1 jilid
  9. Kitab Al-Ba’tswa An-Nusyur dalam 1 jilid
  10. Kitab At-Targhib wa At-Tarhib dalam 1 jilid
  11. Kitab Nushus Asy-Syafi’i dalam 2 jilid
  12. Kitab As-Sunan Ash-Shaghir dalam 1 jilid besar
  13. Kitab Al-Madkhal ila As-Sunan dalam 1 jilid
  14. Kitab Fadhail Al-Auqat dalam 2 jilid
  15. Kitab Manaqib Asy-Syafi’i dalam 1 jilid dan masih banyak lagi yang lainnya.
Meninggalnya Beliau
Imam al-Baihaqi meninggal pada hari Sabtu di Naisabur, Iran, tanggal 10 Jumadil Ula 458 H (9 April 1066 M). Dia lantas dibawa ke tanah kelahirannya yaitu Baihaq dan dimakamkan di sana. Beliau hidup selama 74 tahun.
Referensi :
1.       Al-Madkhal ila As-Sunan Al-Kubra hal. 18 oleh Imam Al-Baihaqi.
2.       Siyar A’lam An-Nubala (18/164) oleh Imam Adz-Dzahabi
3.      Thabaqat Asy-Syafi’iyyah (4/10) oleh Tajuddin As-Subki
4.       Thabaqat Asy-Syafi’iyyah (4/8) oleh Tajuddin As-Subki
5.      Tadzkirah Al-Huffadz (3/1133 oleh Imam Adz-Dzahabi
6.      Siyar A’lam An-Nubala (18/169) oleh Imam Adz-Dzahabi
7.      Tabyinu Kadzib Al-Muftar hal. 266. Lihat Al-Madkhal ila As-Sunan Al-Kubra hal.20
8.      Thabaqat Al-Huffadz, hal. 434 oleh Imam As-Suyuthi
9.        Al-Bidayah wa An-Nihayah (12/94) oleh Ibnu Katsir. Lihat juga Mukhtashar 

Biografi Imam At Tirmidzi

Biografi Imam At Tirmidzi


Imam Tirmidzi rahimahullahu ta’ala. Beliau adalah salah satu Imam Ahli Hadis terkenal yang memiliki kitab hadis yang monumental yaitu Kitab Al-Jami’ atau Sunan at-Tirmidzi.

Allah subhanahu wa ta’ala menakdirkan segala kejadian yang ada di alam semesta ini dengan perantara sebab akibat. Seperti halnya jika kita meminta rezeki dari Allah, kita tidak bisa meminta agar Allah ta’ala menurunkan uang atau pun emas langsung turun dari langit. Akan tetapi, kita harus mengambil sebab agar Allah ta’ala memberikan rezekinya untuk kita, yaitu dengan bekerja.
Begitu pula dengan ilmu. Allah ta’ala ingin menghidupkan dan menyebarkan ilmu agama ini untuk seluruh umat manusia dengan dihidupkannya para ulama. Mereka adalah orang-orang pilihan yang telah Allah ta’ala pilih di antara milyaran manusia di muka bumi ini yang bertugas sebagai pewaris para nabi.
Dan di antara para ulama tersebut, yang telah banyak berjasa untuk kaum muslimin adalah Imam Tirmidzi rahimahullahu ta’ala. Beliau adalah salah satu Imam Ahli Hadis terkenal yang memiliki kitab hadits yang monumental yaitu Kitab“Al-Jami’” atau Sunan at-Tirmidzi.
Bagaimanakah biografi beliau? Mari kita simak kisah perjalanan hidup beliau yang mulia. Semoga kita bisa mengambil banyak pelajaran hidup darinya.
Salah satu ulama besar yang dimiliki kaum muslimin ini bernama lengkap Muhammad bin ‘Isa bin Saurah bin Musa as-Sulami at-Tirmidzi. Dan beliau memiliki nama kunyah Abu ‘Isa.
Beliau  dilahirkan pada tahun 209 Hijriyah di sebuah daerah bernamaTirmidz. Dan nama beliau tersebut dinisbatkan kepada sebuah sungai yang ada di daerah tersebut yang sering dikenal dengan nama Jaihun. Para ulama berbeda pendapat akan kebutaan yang beliau alami pada waktu itu. Ada yang mengatakan bahwa beliau mengalami kebutaan sejak beliau lahir. Akan tetapi yang benar adalah beliau mengalami kebutaan pada masa tua beliau, yaitu masa setelah beliau banyak melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu .
Kisah perjalanan beliau dalam menuntut ilmu
Pada zaman kita saat ini, sangat jarang kita temukan ada seorang anak muda yang sudah semangat menuntut ilmu agama di umurnya yang masih belia. Biasanya, pada usia yang masih belia, mereka lebih menyukai kebebasan bermain dan beraktivitas. Akan tetapi, dahulu para ulama kita memiliki semangat untuk menuntut ilmu agama sejak usia mereka yang masih muda. Termasuk di antaranya adalah Imam Tirmidzi. Beliau memulai jihadnya dengan belajar agama sejak beliau masih muda. Beliau mengambil ilmu dari para syekh yang ada di negara beliau.
Kemudian beliau memulai melakukan perjalanan dalam menuntut ilmu ke berbagai negara yang ada di muka bumi ini. Yang mana perjalanan beliau itu hanya ditujukan untuk menimba ilmu agama. Beberapa daerah yang pernah beliau datangi pada saat itu adalah Khurasan, Iraq, Madinah, Mekkah, dan yang lainnya. 
Sanad Keilmuan Imam Turmudzi ( Guru )
Bagi seorang penuntut ilmu, tidak bisa hanya mencukupkan diri dengan membaca buku-buku dalam rangka menimba ilmu agama. Karena jika hal tersebut dilakukan, maka kesalahanlah yang akan banyak dia dapat daripada kebenaran. Oleh karena itu para penuntut ilmu itu sangat membutuhkan kehadiran seorang guru dalam perjalanannya menuntut ilmu.
Begitu pula apa yang telah dilakukan oleh Imam Imam At Turmudzi  ini. Berbagai negara telah beliau singgahi, sehingga beliau telah banyak menimba ilmu dari para gurunya. Di antara para guru beliau adalah:
  1. Ishaq bin Rahawaih, yang merupakan guru pertama bagi Imam Tirmidzi.
  2. Imam Bukhari. Imamnya para ahli hadis ini adalah termasuk salah satu imam besar yang mana Imam Tirmidzi mengambil ilmu darinya. Beliau adalah guru yang paling berpengaruh bagi Imam Tirmidzi. Dari beliaulah Imam Tirmidzi mengambil ilmu ‘ilalul hadits.
  3. Imam Muslim. Beliau dan Imam Bukhari adalah dua imam ahli hadis terkenal yang ada di muka bumi ini. Kitab hadis karya mereka berdua adalah kitab yang paling benar setelah Alquran.
  4. Imam Abu Dawud.
  5. Qutaibah bin Sa’id.
Dan masih banyak lagi yang lainnya. 
Murid-murid beliau
Sudah menjadi tradisi dan bahkan suatu kewajiban bagi  seorang yang memiliki ilmu untuk mengajarkan ilmunya bahkan bisa menjadi tabungan akhirat kelak ketika ilmu tersebut menjadi ilmu yang bermanfaat , begitu juga yang dilakukan oleh Imam Turmudzi , dengan sabar dan telaten mengajarkan berbagai disiplin ilmu kepada para santrinya Dan di antara muridnya adalah:
  1. Abu Bakar Ahmad bin Isma’il as Samarqand
  2. Abu Hamid al Marwazi
  3. Ar Rabi’ bin Hayyan al Bahiliy
Dan masih banyak lagi yang lainnya. 
Karya-karya  Imam Turmudzi
Tidak hanya sekedar mengajar dan belajar , sebagai bagian dari melestarikan ilmu yang dikuasai Imam Turmudzi juga menggoreskan pemahaman keilmuanya lewat tulisan tulisan yang menjadi sebuah karya tulis yang sampai sekarang masih bisa dikaji dan ditelaah sebagai referensi dalam berhukum yang berdasar pada syari’at , diantara karya beliau adalah :
  1. Al-Jami’ (Sunan at-Tirmidzi).
  2. Al-‘Ilal.
  3. Al-‘Ilal al-Kabir
  4. Syamail an-Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
  5. At Tarikh
  6. Az Zuhd
  7. Al-Asma’ wal-Kuna. Dll
Demikianlah, biografi singkat salah satu ulama kita, Imam Tirmidzi, yang bisa kami sampaikan pada kesempatan kali ini. Semoga bisa menjadi teladan bagi kita semua , Amin .
Wallahu a’lam bish shawab.
***
Referensi:
  1. Jami’ al-Ushul fi Ahadits ar-Rasul, Ibnul Atsir. Tahqiq: Syekh Abdul Qadir al-Arnauth. Maktabah Syamilah.
  2. Juhudul Imam al-Mubarakfuri fi ad-Dirasah al-Qur’aniyyah min Khilal Kitabihi Tuhfah al-Ahwadz, Syekh Muhsin Abdul Adzim as-Syadzili. Maktabah Syamilah.
  3. Mausu’ah Mawaqif as-Salaf fi al-Aqidah wa al-Manhaj wa at-Tarbiyyah, Abu Sahl Muhammad bin Abdirrahman al-Maghrawy. Maktabah Syamilah.
  4. Siyar A’lam an-Nubala’, Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad adz-Dzahabi. Tahqiq: Syekh Syua’ib al-Arnauth. Maktabah Syamilah.
  5. Syarhu ‘Ilal at-Tirmidzi, Ibnu Rajab al-Hambali. Tahqiq: Dr. Hammam Abdurrahim Sa’id. Maktabah Syamilah.
  6. Tarikh al-Islam wa Wafayah al-Masyahiri wa al-A’lam, Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad adz-Dzahabi. Tahqiq: Dr. Basyar ‘Awwad Ma’ruf. Maktabah Syamilah
  7. Thabaqah al-Hanabilah, Abul Husein bin Abi Ya’la. Tahqiq: Syekh Muhammad Hamid al-Fiqqi. Maktabah Syamilah.
جامع الأصول في أحاديث الرسول للجزري (1/ 193)
الإمام الترمذي
هو أبو عيسى محمد بن عيسى بن سورة بن موسى بن الضحاك السلمي الترمذي ولد [ سنة تسع ومائتين ] . وتوفي بـ «ترمذ» ليلة الاثنين الثالث عشر من شهر رجب سنة تسع وسبعين ومائتين ، وهو أحد العلماء الحفاظ الأعلام ، وله في الفقه يد صالحة . أخذ الحديث عن جماعة من أئمة الحديث ، ولقي الصدر الأول من المشايخ . مثل قتيبة بن سعيد ، وإسحاق بن موسى ، ومحمود بن غيلان ، وسعيد بن عبد الرحمن ، ومحمد بن بشار ، وعلي بن حُجر ، وأحمد بن منيع ، ومحمد بن المثنى ، وسفيان بن وكيع ، ومحمد بن إسماعيل البخاري ، وغير هؤلاء ،   وأخذ عن خلق كثير لا يُحصون كثرة . وأخذ عنه خلق كثير ، منهم محمد بن أحمد بن محبوب المحبوبي المروزي ، ومن طريقه روينا كتابه «الجامع» . وله تصانيف كثيرة في علم الحديث ، وهذا كتابه «الصحيح» أحسن الكتب وأكثرها فائدة ، وأحسنها ترتيبًا ، وأقلها تكرارًا ، وفيه ما ليس في غيره : من ذكر المذاهب ، ووجوه الاستدلال ، وتبيين أنواع الحديث من الصحيح ، والحسن ، والغريب ، وفيه جرح وتعديل ، وفي آخره كتاب «العلل» ، قد جمع فيه فوائد حسنة لا يخفى قدرها من وقف عليها. قال الترمذي [ رحمه الله تعالى ] : صنفت هذا الكتاب فعرضته على علماء الحجاز فرضوا به ، وعرضته على علماء العراق فرضوا به ، وعرضته على علماء خراسان فرضوا به ، ومن كان في بيته هذا الكتاب ، فكأنما في بيته نبي يتكلم . وقال الترمذي : كان جديي مروزيًآ انتقل من مَرْو ، أيام الليث بن سيار .


 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Islam Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger