Menantu Ideal ala Umar bin Khotob



Menantu Ideal ala Umar bin Khotob 



Pada suatu malam Khalifah Umar bin Khattab melakukan “blusukan” dengan ditemani ajudannya. Di tengah-tengah blusukan itu, Umar pun merasakan lelah sehingga memutuskan untuk beristirahat.

Saat Khalifah dan ajudannya beristirahat, ia tidak sengaja mendengar percakapan antara ibu dan anak gadisnya.

“Wahai anakku, oploslah susu yang kamu perah tadi dengan air,” perintah seorang ibu.

Lalu, si gadis menolak perintah ibunya dengan mengatakan, “Apakah Ibu tidak pernah mendengar perintah Amirul Mukminin, Umar bin Khattab kepada rakyatnya untuk tidak menjual susu yang dicampur air?”

“Iya, Ibu pernah mendengar perintah tersebut,” jawab sang ibu.

Kemudian ibunya berkilah, “Mana Khalifah? Apakah dia melihat kita? Ayolah anakku laksanakan perintah ibumu ini, kan cuma sedikit kok ngoplosnya!”

“Dia tidak melihat kita, tapi Rabb-nya melihat kita dan demi Allah saya tidak akan melakukan perbuatan yang dilarang Allah dan melanggar seruan Khalifah Umar untuk selama-lamanya” Gadis tersebut menolak dengan yakin dan tegas.

Setelah mendengar percakapan gadis dengan ibunya tersebut, Umar dan ajudannya langsung pulang. Sesampai di rumah, Umar bercerita tentang pengamalaman blusukan tadi malam dan meminta putranya, ‘Ashim bin Umar untuk menikahi gadis yang shalihah tersebut.

Dari pernikahan ‘Ashim dengan gadis tersebut, Umar dikaruniai cucu permpuan bernama Laila atau yang biasa disebut Ummu Ashim dan dari Ummu Ashim telahir Umar bin Abdul Aziz khalifah kelima yang terkenal sangat adil, zuhud, dan bijaksana. 

*) Dinukil dari Kitab Hikayatu Islamiyyah Qabla an-Naum, Karya Najwa Husain Abdul Aziz, Kairo: Maktabah  Ash-Shofa 2001

PERISTIWA PENTING YANG TERJADI DI BULAN MUHARRAM ( ASYURO’ )

PERISTIWA PENTING YANG TERJADI DI BULAN MUHARRAM ( ASYURO’ )



    Selain sebagai awal tahun dan kesunahan menjalankan pusa pada tanggal 10 muharram berdasarkan bebrapa hadits , dalambulan Muharram juga terdapat peristiwa penting yang terjadi . peristiwa penting yang terjadi di bulan Muharram ( Asyuro’) adalah :


1.         1 Muharram – Khalifah Umar Al-Khattab mula membuat penetapan kiraan bulan dalam Hijrah.
2.         10 Muharram – Dinamakan juga hari “Asyura” pada hari itu banyak terjadi peristiwa penting yang mencerminkan kegemilangan bagi perjuangan yang gigih dan tabah dari menegakkan keadilah dan kebenaran.  

Pada 10 Muharram juga telah berlaku:

1.          Nabi Adam bertaubat kepada Allah
2.         Nabi Idris diangkat oleh Allah ke langit.
3.          Nabi Nuh diselamatkan Allah keluar dari perahunya sesudah bumi ditenggelamkan selama 6 bulan
4.         Nabi Ibrahim diselamatkan Allah dari pembakaran Raja Namrud
5.         Allah menurunkan kitab Taurat kepada Nabi Musa
6.         Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara
7.          Penglihatan Nabi Yaakob yang kabur dipulihkkan Allah
8.         Nabi Ayub dipulihkan Allah dari penyakit kulit yang dideritainya
9.          Nabi Yunus selamat keluar dari perut ikan paus setelah berada di dalamnya selama 40 hari 40 malam
10.      Laut Merah terbelah dua untuk menyelamatkan Nabi Musa dan pengikutnya dari tentera Firaun
11.       Kesalahan Nabi Daud diampuni Allah
12.       Nabi Sulaiman dikurniakan Allah kerajaan yang besar
13.       Hari pertama Allah menciptakan alam
14.      Hari Pertama Alllah menurunkan rahmat
15.      Hari pertama Allah menurnkan hujan
16.      Allah menjadikan ‘Arasy
17.      Allah menjadikan Luh Mahfuz
18.      Allah menjadikan alam
19.       Allah menjadikan Malaikat Jibril
20.       Nabi Isa diangkat ke langit.


Penulis : KH. Abdurrahman Navis, Lc., MHI
(Direktur Aswaja Center Jawa Timur)




SANTRI

SANTRI 

Santri merupakan karya yang menggambarkan kehidupan komunitas dalam pesantren dan dan diluar pesantren namun tetap menggunakan adat dan akhlaq ala pesantren , yang mana dalam kehidupan pesantren tersebut terdapat lika liku derama dan kisah yang menghiasi orang orang didalamnya sehingga setelah keluar dari komunitas tersebut masih terasa rasa kebersamaan dan saling menghargai antara semua .

Santri

Hari ini
Kubayangkan aku bertemu dengannya
Laki-laki tanpa nama
yang membuatku terpana.

"Akulah santri yang membidikkan senapan
ke pelipisnya sebelah kanan.
Pelipis seorang Inggris
yang amat kubenci."

Aku bayangkan:
Laki-laki itu mengenakan peci
hitam beludru. Mengendap-endap antara perdu
dan semak rumptu di lereng tanah seberang Jembatan Merah.

Di depan gedung Internatio pertempuran pun meletus.
Udara bau hangus. Dan bertebar bubuk mesiu
seakan-akan hujan abu.
Kemudian laki-laki itu melihatnya:

Seorang brigadir jendral memasuki mobil buick.
Rambutnya klimis. Sebelum beranjak
jauh, laki-laki yang mengendap-endap di dekat jembatan
membidikkan moncong senapan

Kemudian, "dor!"
Pelipisnya ambrol.
Pelipis seorang Inggris
yang bernama Mallaby.

Setelah itu granat pecah
dekat mobilnya
Tanah merembeskan darah
merah jadinya

Tapi laki-laki itu
yang memanggul senapan
tersenyum sebentar sebelum ia
selempangkan sarung sambil teriak: Merdeka!

Aku bayangkan aku bertanya:
"Siapa namamu, santri?"
Tapi ia berlalu saja. Pergi.
Aku agak kecewa, "hei, kenapa?!"

Ia bergegas
menyelinap ke semak-semak.
Tanpa bekas.
Tapi puing dan tembok bunyi.

"Aku tidak dilahirkan
untuk berbasa-basi soal nama.
Bukan untuk itu, pemuda."
Aku pun terpana.


oleh : Saiful Huda, 22 Okt 2015
Selamat Hari Santri Nasional.

WIRIDAN IMAM GHAZALI

WIRIDAN IMAM GHAZALI


Diantara kewajiban seorang muslim adalah mengingat dan menempatkan Allah swt  sebagai sandaran hidupnya. Manusia dapat mengingat Allah swt di mana saja dan kapan saja selama ia masih berada di atas bumi-Nya. Banyak sekali ekspresi manusia dalam mengingat Allah; menangis, berdiam diri, menyanyi, menari, dan berkata-kata.
Sebagai mana difirmankan dalam al-Baqarah ayat 152: فاذكرونى أذكركم   “ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat kepadamu.”
Dalam konteks ini seorang muslimim tidak pernah lepas dari tiga hal yaitu doa (permintaan kepada Allah), zikir yaitu segala gerak gerik dan aktivitas yang berobsesitaqarrub kepada Allah. Termasuk juga zikir adalah me lafadz kan kata-kata tertentu. Dan wirid (bacaan tertentu untuk mendapatkan ‘aliran’ dari Allah).
Yang dimaksud dengan aliran di sini adalah aliran rahmat Allah swt yang sampai pada seorang muslim dalam berbagai bentuknya. Sehingga rahmat itu akan menuntunnya menghindar dari masalah yang akut. Baik masalah bersifat dunia maupun akhirat. Imam Ghazali pernah berkata bahwa diantara hal yang medorong keberhasilanku meraih kebahagiaan dan terlepas dari kesusahan adalah bacaan wirid sebagai berikut:

NoHariBanyaknyaBacaan Wirid
1Jum’at1000 X
يا الله
Ya Allah
2Sabtu1000 X
لا اله إلا الله 
La ilaha illallah
3Ahad1000 X
يا حي يا قيوم 
Ya Hayyu Ya Qayyum
4Senin1000 X
لاحول ولاقوة إلا بالله العلي العظيم 
La haula wa la quwwata illa billahil aliyyil adhim
5Selasa1000 X
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى أله صحبه وسلم
Allahumma shalli ala sayyidina Muhammadin wa ala alihi wa shahbihi wasallim
6Rabu1000 X
استغفر الله العظيم
Astaghfirullahal adhim
7Kamis1000 X
سبحان الله العظيم وبحمده
Subhanallahil adhim wa bihamdih

Itulah wirid Imam Ghazali yang dibaca sesuai ketentuan harinya. Masing-masing dibaca sebanyak seribu kali. Hal yang harus diperhatikan di sini adalah penentuan hitungan hari. Misalkan hari jum’at dihitung sedari waktu shalat asar pada hari kamis hingga waktu ashar hari jum’at. Karena itu pada malam jum’at (kamis malam) hingga siang hari Jum’at  bacaannya adalah ya Allah 1000x. Dan demikian seterusnya. (ulil)

BERKAH BERBAGI DI BULAN ASYURA


BERKAH BERBAGI DI BULAN ASYURA

Umat Islam dianjurkan untuk berbagi kebahagiaan pada hari Asyura atau 10 Muharram. Kisah yang termaktub dalam kitaban-Nawadir karya Ahmad Syihabudin bin Salamah Al-Qalyubiy ini mungkin dapat menjadi salah satu acuan mengapa pula banyak diadakan kegiatan penyantunan kepada fakir miskin dan anak yatim di hari Asyura.

Suatu hari, bertepatan dengan Asyura ada seorang fakir yang memiliki tanggungan anak pergi ke rumah tuan Qadli (hakim). Sebetulnya dia enggan meminta karena dia juga seorang Alawiyyin, akan tetapi melihat anaknya yang sudah berhari-hari tidak makan ia pun pergi menuju kota.

Untuk menuju ke kota, ia harus berjalan cukup jauh melewati padang pasir. Akhirnya, tibalah ia di rumah tuan Qadli. Kemudian menceritakan keadaannya.

Inii rajulun fakirun dzu ‘iyalin (saya ini lelaki fakir yang punya banyak tanggungan keluarga). Hari ini bertepatan 10 muharam, saya mau minta kepada anda tidak banyak: 10 potong roti, 10 potong daging, dan uang 2 dirham,” kata si fakir.

“Iya Pak, nanti siang anda ke sini lagi,” jawab Qadli.

Lalu pulanglah ia ke desa, sementara itu anaknya melihat kedatangan sang ayah merasa gembira. Berharap membawa sesuatu untuk dimakan. Akan tetapi kali ini ia pulang dengan tangan hampa.

“Sabar ya nak, nanti siang ayah kembali lagi ke sana,” jawab sang ayah.

Siangnya, si fakir kembali menemui Qadli dan mendapat jawaban sama. “Maaf, nanti sore kembali lagi ya, Pak,” jawab Qadli.

Jawaban tersebut terulang lagi, ketika pada sore harinya si fakir menemui Qadli. Bahkan, ia justru mendapat makian dari Qadli karena meminta-minta.

Merasa sedih dan tidak berdaya lagi, ia pun berdoa kepada Allah. “Ya Allah! mata mana yang tega melihat kondisi anak saya? Telinga mana yang mampu mendengar ratap tangisan anak saya? Mulut mana yang mampu menjawab pertanyaan anak saya!” pinta fakir.

Maka ia pun pulang dengan langkah gontai. Namun, di tengah jalan ia bertemu dengan seorang Nasrani bernama Saiduk

“Ada apa Pak, kenapa menangis?” tanya Saiduk.

“Jangan tanya kondisi saya,” jawab fakir.

“Saya tanya, billahi, mengapa kamu menangis?” tanya Saiduk kembali.

Akhirnya, ia menceritakan kisahnya kepada Saiduk dan membuatnya iba, kemudian ia bertanya. “Saat ini kalau dalam Islam, hari apa?” tanya Saiduk.

“10 Muharram. Ini hari yang penuh berkah,” jawab fakir.

“Kalau begitu saya ingin memberi kepada anda, lebih dari yang anda minta” jawab Saiduk.

Tidak hanya itu, bahkan Saiduk berjanji untuk selalu memberi bantuan kepada si fakir. Hal ini membuat fakir bahagia. Ia pun pulang dengan disambut gembira anak-anaknya, sebab kali ini ia pulang dengan membawa sejumlah makanan dan uang.

“Ya Allah, orang yang membuat kami senang, maka buatlah dia gembira, secepatnya,” ungkap anak-anaknya.

Sementara itu, pada malam harinya tuan Qadli bermimpi. Ia mendengar suara tanpa rupa (hatif).

“Angkat kepalamu!” dilihatnya dua rumah panggung yang terbuat dari emas dan perak.

“Ini untuk siapa?” tanya Qadli.

“Sesungguhnya untuk kamu, seandainya kamu melayani kebutuhannya orang fakir tadi, tapi karena kamu tidak melayani, maka ini diberikan kepada Saiduk,” jawab hatif.

Esok hari, tua Qadli bergegas menuju ke rumah Saiduk untuk menanyakan perihal mimpi semalam. “Wahai Saiduk, amal kebajikan apa yang telah kamu lakukan semalam?” tanya Qadli. Saiduk pun menceritakan kembali, tentang seorang fakir yang bertemu dengannya semalam..

“Baiklah saiduk, apa yang kau berikan kepada orang fakir tersebut, saya ganti 100.000 dirham,” kata Qadli.

Namun, di luar dugaan tawaran tersebut ditampik Saiduk. “Tuan Qadhi, jangankan sejumlah yang anda tawarkan. Seandainya diberi dunia ini penuh dengan emas, tidak akan saya berikan. Sekarang saksikan dan pegang tangan saya, Asyhadu an laa ilaaha illa Allah wa Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah,” tukas Saiduk yang akhirnya ditakdirkan Allah menjadi orang yang beruntung, sesuai dengan namanya. (Ajie Najmuddin)

HARI SANTRI



HARI SANTRI

Rona wajah mentari tak putus menyinari
Terus dan terus bersinar menunjukkan keaggungan sang ilahi
Berjalan lurus dengan semangat yang tinggi
Meskipun hanya berseragam sarung dan peci

Ya , mereka para santri
Santri yang sudah lama terkebiri
Kini kembali menunjukkan eksistensi
Mengibarkan kembali resolusi jihab Mbah Hasyim Asy’ari

Bukan untuk berperang melawan kolonial lagi
Bukan untuk melawan penjajah kembali
Tapi memberitahukan bahwa santri ada di bumi pertiwi
Yang siap mengawal NKRI

Hari santri
Semoga bukan hanya simbolisasi
Tapi sebuah motivasi
Akan pentingnya santri di bumi pertiwi

Bukan penghargaan tertinggi yang mereka cari
Bukan lencana yang diminati
Hanya kecintaan pada negeri
Mereka rela mati

Terus berjuang meski tak dipuji
Terus melangkah meski tak digaji
Karena mereka tau itu perintah Ilahi
Lewat sabda baginda Nabi

Hari Santri
Semoga menjadi refleksi
Para santri muda yang mengaji
Untuk terus membaktikan diri
Kepada bumi pertiwi


Pati : 21: 10 : 2015

Selamat menunaikan kewajiban sebagai santri yang haqiqi bukan santri yang termakan politisasi .

MENEGUHKAN KEKUATAN BANGSA MELALUIHARI SANTRI

MENEGUHKAN KEKUATAN BANGSA MELALUI HARI SANTRI


Tanggal 22 Oktober adalah tanggal yang bersejarah bagi bangsa Indonesia khususnya bagi Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi sosial keagamaan (jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah). Tanggal tersebut menjadi sebuah alasan yang mendorong terjadinya peristiwa pertempuran Surabaya pada tanggal 10 November 1945. Peristiwa yang menyimpan makna sejarah yang tak terlupakan bagi negara yang sudah merdeka 70 tahun ini. Sehingga setiap tanggal 10 November kita kenal sebagai Hari Pahlawan.

Ketika Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya dan terbebas dari kolonialisme selama lebih dari tiga setengah abad, bangsa ini kembali harus berhadapan dengan pasukan Inggris yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) mengatasnamakan blok sekutu dengan misi mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. 

Sehingga peristiwa tersebut menuntut warga negara Indonesia untuk kembali mengangkat senjata melawan penjajah demi mempertahankan kemerdekaan yang telah diraih dengan jiwa dan raga. Runtutan peristiwa itulah yang menginisiasi lahirnya fatwa Resolusi Jihad dari Hadlratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU. Fatwa tersebut yang berhasil membakar semangat para ulama, santri, arek-arek Surabaya, seluruh rakyat Indonesia untuk berjihad membela bangsa dan negara.

Saat ini Presiden RI Joko Widodo telah menandatangani Keppres Hari Santri Nasional pada 15 Oktober 2015. Penetapan ini sebagai realisasi janji Presiden Joko Widodo pada saat masa kampanye 1 tahun yang lalu. Proses menentukan hari besar nasional tersebut sempat terjadi dinamika didalamnya. Semula akan ditentukan setiap tanggal 1 Muharram, kemudian diganti tanggal 22 Oktober atas dasar masukan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan ormas Islam lainnya. Sejarah perjuangan para ulama dan santri dalam memberikan kontribusi kepada bangsa ini menjadi alasan utama PBNU memberikan saran tanggal tersebut.

Hari Santri Nasional bukan hanya sebatas menggugurkan janji Presiden Jokowi saja. Banyak hal yang perlu masyarakat refleksikan dari ditetapkannya hari besar tersebut. Ini sebagai upaya membuka pemikiran seluruh warga negara Indonesia bahwa para ulama dan santri mempunyai saham besar atas berdirinya negara ini. Peran dan perjuangan kalangan pesantren dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia mulai dari sebelum kemerdekaan hingga sekarang tidak bisa dikesampingkan apalagi dihapuskan. Saat ini banyak masyarakat yang menilai bahwa ulama dan santri yang dikenal dengan kaum sarungan hanya mengurusi masalah keagamaan saja. Hal ini dikarenakan adanya diskriminasi pemerintah pada zaman Orde Baru yang sengaja menghapuskan peran ulama dan santri dalam perjalanan sejarah bangsa ini. Perlakuan tidak adil ini teraplikasikan dari minimnya catatan sejarah resmi yang menjelaskan bahwa ulama dan santri telah berkontribusi besar dalam tegaknya Republik Indonesia.

Dinamika Perjuangan Kalangan Pesantren

Pada zaman sebelum kemerdekaan para ulama berupaya untuk membebaskan bangsa ini dari penjajah. Menurut Manfred Ziemek dalam buku hasil penelitiannya Pesantren Dalam Perubahan dituliskan bahwa “Para pejuang kemerdekaan melawan kaum penjajah adalah para kiai dan santri yang terpanggil memprakarsai dan memimpin perlawanan”. 

Rasa cinta para ulama dan santri terhadap negara sangatlah besar. Jika kita melihat poin penting  dari isi fatwa Resolusi Jihad antara lain yaitu. Pertama, kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus wajib dipertahankan. Kedua, Republik Indonesia sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah harus dijaga dan ditolong. Ketiga, musuh Republik Indonesia yaitu Belanda yang kembali ke Indonesia dangan bantuan sekutu Inggris pasti akan menggunakan cara-cara politik dan militer untuk menjajah kembali Indonesia. Keempat, umat islam terutama anggota NU harus mengangkat senjata melawan penjajah belanda dan sekutunya yang ingin menjajah Indonesia kembali. Kelima, kewajiban ini merupakan perang suci (jihad) dan merupakan kewajiban bagi setiap umat muslim yang tinggal dalam radius 94 kilometer, sedangkan mereka yang tinggal di luar radius tersebut harus membantu dalam bentuk material terhadap mereka yang berjuang.  

Memahami isi dari fatwa dari pendiri NU ini, tentu ini bukan hanya sebatas ajakan biasa untuk berjuang. Tapi fatwa tersebut adalah buah dari ijtihad para ulama sebagai modal para santri dan arek-arek Surabaya untuk berjihad. kita bisa merasakan betapa besarnya keinginan para ulama mempertahankan kemerdekaan bangsa ini. Hasilnya pun bisa kita rasakan sampai sekarang. Tapi sekali lagi sangat disayangkan, tidak banyak generasi saat ini yang mengetahui peristiwa bersejarah tersebut.

Kontribusi yang diberikan oleh para ulama dan santri tidak sebatas pada saat pra kemerdekaan saja. Sesudah merdeka pun ulama dan santri tidak hanya berdiam diri dalam menjaga kedaulatan Republik ini. Salah satunya dalam mempertahankan Pancasila sebagai ideologi negara. Ketika Pancasila dipertentangkan oleh sebagian kelompok intoleran, para ulama NU-lah yang menuntaskan penerimaan Pancasila sebagai azas tunggal dalam kehidupan bernegara. Bahkan salah satu ulama NU KH As’ad Syamsul Arifin menegaskan bahwa sebagian kiai dan umat Islam Indonesia berpendapat bahwa menerima Pancasila hukumnya wajib (Lihat Prof Dr Maksoem Machfoedz dalam bukunya Kebangkitan Ulama dan Bangkitnya Ulama). Diperkuat lagi dengan keputusan Muktamar NU tentang pengukuhan dan pengesahan hasil Musyawarah Nasional Alim Ulama tahun 1983 di Situbondo. Poin ke lima dari Deklarasi tentang hubungan Pancasila dan Islam dijelaskan “Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konseksuen 
oleh semua pihak.”

Tanggal 22 Oktober 2015 pertama kalinya pemerintah meresmikan “Hari Santri Nasional” sudah sepatutnya para kalangan pesantren menyambut momen ini dengan suka cita. Sudah saatnya para santri menjadi agen perubahan masa depan bangsa ini. Ada beberapa upaya yang menurut penulis bisa dilakukan para santri untuk hal tersebut, yaitu pertama, sudah saatnya santri bersikap lebih progresif dalam menuntut ilmu. Tidak hanya mendalami ilmu agama saja, akan tetapi juga mempelajari semua ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Selama ini para jebolan pesantren apalagi yang pesantren salaf berjubel di jurusan Tarbiyah saja sehingga kebanyakan hanya menjadi tenaga pendidik. Perlu adanya upaya menyebarkan santri di segala disiplin ilmu. Baik ilmu sosial maupun teknologi. Sehingga diharapkan akan terlahir para ilmuan dan teknorat yang berjiwa santri.

Kedua, perlu adanya metode pembelajaran baru yang diselenggakan di pesantren. Kesan suasana pesantren yang tradisional dan klasik seakan menjadi penghambat minat para anak-anak untuk mau belajar di pesantren. Modifikasi cara belajar perlu dilakukan tanpa harus menghilangkan substansi keilmuan yang akan disampaikan. Kemajuan teknologi yang semakin canggih seharusnya dimanfaatkan untuk sarana transfer of knowladge para santri saat ini. Sehingga istilah Gaptek (gagap teknologi) tidak dialami lagi oleh para santri. Perlu diingat, bahwa sebagian besar generasi muda saat ini ketika bertanya perihal agama cenderung lebih memilih bertanya melalui internet daripada langsung bertanya kepada ustad atau kyai. Disinilah peran santri sangat diperlukan untuk selalu membagi ilmunya melalui udara.

Ketiga, perlu adanya penyeimbangan antara ditetapkannya hari santri nasional dengan perhatian pemerintah terhadap pesantren. Artinya supaya pemerintah tidak terkesan hanya menetapkan hari tersebut tanpa adanya visi masa depan. Tetapi benar-benar pemerintah bisa membantu menjadikan pesantren sebagai produsen yang menciptakan insan-insan masa depan bermutu yang bisa diandalkan untuk kemajuan bangsa ini. Saat ini perhatian pemerintah lebih besar tertuju kepada lembaga pendidikan formal saja. Mulai dari sarana dan prasarana pesantren hingga kesejahteraan pendidik haruslah ditingkatkan. Sehingga paradigma masyarakat terhadap pesantren tidak lagi dipandang sebelah mata dan percaya untuk menitipkan putra-putrinya untuk menimba ilmu di lembaga pendidikan milik para kyai tersebut. Bukankah beberapa Founding Father bangsa ini juga berasal dari kalangan pesantren yaitu Wahid Hasyim, A Kahar Mudzakir, Agus Salim, dan lain-lain.

Beberapa upaya di atas bisa terwujud dengan adanya kerjasama berbagai pihak. Gerakan “Ayo Mondok” yang dicetuskan oleh Rabithah Ma’ahid al-Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU), lembaga yang merupakan asosiasi pesantren seluruh Indonesia adalah upaya nyata untuk mewujudkan cita-cita bangsa dan negara yang adil dan beradab untuk seluruh rakyatnya. Semoga.


Ferial Farkhan Ibnu Akhmad, Ketua PC IPNU Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Foto ilustrasi: Santri Pondok Pesantren Tremas Pacitan, Jawa Timur ketika melaksanakan Upacara HUT Kemerdekaan Ke-69 RI, 17 Agustus 2014 lalu.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Islam Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger