PERBEDAAN JIN , SYETAN DAN IBLIS


PERBEDAAN JIN , SYETAN DAN IBLIS



Pertanyaan :
Apa perbedaan  Jin, Syetan dan  Iblis ? ( Ranting NU Kijingan )
            
Jawab :

Dalam permasalahan diatas, dari teks yng kami temukan baik dari Al Qur'an maupun pendapat ulama terdapat beberapa berbedaan , adapun perbedaanya antara lain :

Jin :     

o    Jin adalah makhluk yang diciptakan Allah SWT , mereka dari bangsa ghoib dan bisa berubah ubah bentuk .
o     Jin dibuat dari apai yang sangat panas .
o     Jin ada yang Islam juga ada yang kafir .
o     Jin juga menerima beban syari’at ( wajib menjalankan syari’at yang dibawa oleh nabi ) .
o     Jin ada yang Sholih dan ada yang Tholih ( jahat )

Syetan :
o    Syetan bukanlah mahluk yang berdiri sendiri ( obyek ) tetapi istilah dari semua perkara ( perbuatan ) yang mengajak pada perbuatan ma’siat ( dosa ) baik dari bangsa jin maupun manusia .

Iblis :

o    Iblis adalah nenek moyang dari Jin seperti Nabi Adam adalah nenek moyang dari manusia
o    Sebagian Ulama’ berpendapat bahwa Iblis termasuk golongan dari Malaikat , dan sebagian berpandapat tidak .
o    Makhluk Allah SWT yang takabbur  dan ingkar terhadap Allah
o    Iblis bisa memiliki keturunan
o    Iblis dan semua keturunanya adalah musuh manusia yang jelas .

    
Ibarat :

1.              Kawakib al Ajwaj Hal : 152
2.              Surah Al Hajr ayat : 27
3.              Surah Al Jin ayat : 14 -15
4.              Surah Adz zhariyat ayat : 56
5.              Surat al Jin ayat : 11
6.              Tafsir Showiy Juz : 1 Hal : 5
7.              Surah al An’am  ayat : 112
8.              Tafsir Ibnu Katsir  Juz : 1 Hal : 29 – 30
9.              Tafsir Thobariy Juz : 1 Hal : 179
10.          Tafsir Ibnu Katsir  Juz : 1 Hal : 134
11.          Surah al Kahfi ayat : 50
12.          Surah al Baqoroh ayat : 50

Ibarat :

وأما الجن فأجسام لطيفة هوائية تتشكل بأشكال مختلفة ويظهر منها أفعال عجييبة. 
{ كوكب الأجوج  ص: 152 }
Jin adalah benda yang halus yang berupa udara yang bisa berubah bentuk dan memperlihatkan perkara yang mengherankan .
( Kawakib al Ajwaj Hal : 152 0
والجان خلقنه من قبل من نار السموم { الحجر : 27 }
Dan jin yang kami ciptakan sebelumnya dari api yang panas ( Al Hijr : 27 )

وانا منا المسلمون ومنا القاسطون، فمن اسلم فاولئك تحروا رشدا، واما القاسطون فكانوا لجهنم حطبا.{ الجن  14- 15}
وما خلقت الجن والإنس الا ليعبدون  { الذاريات : 56 }

وانا منا الصلحون ومنا دون ذلك، كنا طرائق قددا  { الجن : 11 }

والشيطان اصله من شطن أى بعد عن الرحمة وقيل من شاط بمعنى إحترق، وهو إسم لكل عات من الجن والإنس  {تفسير الصاوى : جز:1  ص:5 }
Kata syetan berasal dari syatona artinya jauh dari rahmat , dan dikatakan berasal dari kata syaa tho yang berma’na membakar .syetan adalah istilah ( nama ) pada setiap perkara yang menyimpang ( mengajak pada perbuatan ma’siat ) dari bangsa manusia dan jin .
( Tafsir Showi Juz : 1  Hal : 5 )

وكذالك جعلنا لكل نبي عدوا شيطين الإنس والجن، يوحي بعضهم الى بعض زخرف القول غرورا     {الأنعام:112}
Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. ( Al An’am : 112 )

عن ابي ذر رضي الله قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: يا أبا ذر تعوذ بالله من شياطين الإنس والجن، فقلت : او للإنس شياطين؟ قال: نعم. – رواه أحمد – { تفسير إبن كثير: جز: 1 ص:29-30 }
Dari Abi Dzar R.A . Rosulullah SAW berkata : wahai Aba Dzar berlindunglah kepada Allah dari godaan Syetan dari bangsa manusia dan jin . saya bertanya : apakah dari bangsa manusia ada yang menjadi syetan ? Nabi menjawab : iya . HR . Ahmad .
( Tafsir Ibnu Katsir Juz : 1 Hal : 29 – 30 )

إبليس أبو الجن كما ادم أبوالإنس { تفسير الطبرى جز:1 ص:179 }
Iblis adalah nenek moyang dari bangsa jin seperti halnya Nabi Adam adalah nenek moyang dari  manusia .
( Tafsir Thobariy Juz : 1  Hal : 179)

ما كان ابليس من الملائكة طرفة عين قط، وإنه لأصل الجن كما ان أدم أصل الإنس  { تفسير ابن كثير جز:1 ص:134}
Iblis bukanlah dari bangsa malaikat sama sekali  dan dia ( iblis ) adalah moyang dari bangsa jin seperti Nabi adam adalah moyang dari manusia .
( Tafsir Ibnu Katsir Juz : 1 Hal : 134 0
وإذ قلنا للملئكه اسجدوا لأدم فسجدوا الا ابليس كان من الجن ففسق عن امر ربه أفتتخذونه وذريته اولياء من دوني وهم لكم عدو وبئس للظالمين بدلا  { الكهف : 50 }
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim. ( Al Kahfi : 50 )

وإذ قلنا للملئكة اسجدوا لأدم فسجدوا الا إبليس ابى واستكبر وكان من الكفرين  { البقرة : 34 }

Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. ( al Baqoroh : 34 )

PERBEDAAN GHIBAH DAN NGERUMPI ( NGRASANI )

PERBEDAAN GHIBAH DAN NGERUMPI ( NGRASANI )



Tanya

1.       Bagaimana maksudnya bahwa ghibah (ngerumpi) itu
1.       Termasuk dosa besar bagi ahlul ilmu dan ahlul quran
2.       Termasuk dosa kecil bagi selain keduanya. Apakah dianggap termasuk dosa kecil bagi orang yang hanya sekedar tahu bahwa ghibah itu haram tanpa mengetahui dasar hukumnya.
2.       Mohon dijelaskan tentang enam macam ghibah yang diperbolehkan, sebagaimana disebutkan dalam nadham di bawah ini, kemudian mohon diberikan contohnya!

القَدُحُ لَيْسَ بِغِيْبَةٍ فِى سِتَّةٍ * مُتَظَلِّمٍ وَمُعَرِّفٍ وَمُحَذِّرٍ
وَلِمُظْهِرٍ فِسْقًا وَمُسْتَفْتٍ وَمَنْ * طَلَبَ الإِعَانَةَ فِى إِزَالَةِ مُنْكَرٍ

3.       Apakah penghujatan itu termasuk ghibah?

Jawaban

1.       Sebenarnya bukan ghibah saja yang apabila dilakukan oleh ahlul ilmi dan ahli Quran yang menjadi dosa besar, akan tetapi semua dosa kecil itu dianggap dosa besar oleh Allah swt apabila ada salah satu dari lima sebab, sebagaimana disebutkan oleh Imam al Ghozali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin cetakan Darul Fikr, Beirut, tt, juz 4 halaman 32-31, lima macam sebab tersebut adalah sebagai berikut:

1.       Dosa kecil yang dilakukan terus-menerus tanpa ada keinginan untuk berhenti.
2.       Dosa kecil yang dilakukan dengan perasaan bangga.
3.       Dosa kecil yang dilakukan dengan perasaan meremehkannya.
4.       Dosa kecil yang dilakukan dengan terang-terangan di muka umum.
5.       Dosa kecil yang dilakukan oleh orang alim atau orang yang menjadi panutan masyarakat.
2.       Enam macam ghibah yang diperbolehkan sebagaimana yang anda sebutkan dalam dua bait nadham diatas, adalah

1.       Muttadhallim, yaitu orang yang dianiaya oleh orang lain, kemudian mengadukan penganiayaan yang dilakukan oleh orang lain tersebut kepada pejabat yang berwenang mengurus penganiayaan tersebut kepada orang lain yang tidak berhak.

2.       Orang yang kesulitan menemukan seseorang meskipun sudah diketahui namanya tanpa menyebutkan cacatnya, karena kebetulan banyak orang yang namanya sama. Misalnya ada orang yang mencari seseorang dikampung A yang bernama Ahmad. Kemudian dia bertanya kepada salah seorang penduduk, Orang yang ditanya kembali bertanya: Ahmad siapa? Dikampung ini ada sepuluh orang yang bernama Ahmad! Yang bertanya: Si Ahmad yang selalu memakai songkok dan tidak pernah melepasnya! Yang ditanya: Orang yang bernama Ahmad di sini semuanya memakai songkok dan tidak pernah melepasnya! Yang bertanya: Ahmad yang raji sholat berjamaah! Yang ditanya: Ahmad yang ada sepuluh orang itu semuanya rajin berjamaah! Yang bertanya: Ahmad yang rajin ta’ziyah jika ada orang mati! Yang ditanya: Semua Ahmad disini rajin ta’ziyah! Setelah penanya kesulitan menemukan Ahmad dengan menyebutkan sifat-sifat yang baik, akhirnya dia berkata: Maaf! Si Ahmad yang matanya buta sebelah! Kemudian yang ditanya baru mengetahui dan menjawab: Oh! Ahmad itu, itu rumahnya nomor sekian!

3.       Orang yang memperingatkan kepada masyarakat agar menghindarkan diri dari perbuatan yang tercela seperti yang dikerjakan oleh si A agar hidupnya tidak sengsara seperti si A.

4.       Orang yang terang-terangan berbuat maksiat, seperti penjual minuman keras, pemabuk, penjudi dan lain sebagainya.Orang yang meminta fatwa kepada orang lain, seperti yang dilakukan oleh sahabat Hindun ra kepada Rasulullah saw tentang suaminya Abu Sufyan: Ya Rasulullah! Saya takut kufur dalam iman! Rasulullah saw bersabda: Ada apa sebenarnya? Hindun menjawab: Saya tidak mencela suami saya Abu Sufyan tentang kegagahan dan ahlaknya, tetapi sayang beliau ringan tangan dan terlalu sedikit memberi nafkah kepadaku! Rasulullah saw bersabda: Maukah engkau mengembalikan kebun yang diberikan oleh Abu Sufyan kepadamu sebagai mahar? Hindun menjawab: Mau! Kemudian Rasulullah saw. Memanggil Abu Sufyan untuk menerima kembali kebun dari Hindun sebagai tebusan dari talak yang dijatuhkan oleh Rasulullah saw.

5.       Orang yang meminta bantuan kepada orang lain untuk menghilangkan kemungkaran. Misalnya si A melihat si B melakukan perbuatan mungkar, seperti minum arak, atau berjudi disuatu tempat atau lainnya. Sewaktu si A melihat si B berbuat mungkar, maka si A berkewajiban mengingatkan/menasehati si B. Akan tetapi karena suatu alasan si A tidak berani menasehati/mengingatkan si B. Kemudian si A melihat bahwa ada orang lain yang disegani dan diikuti nasehatnya oleh si B, yaitu si C. Dalam hal ini maka si A diperbolehkan menuturkan kepada orang lain yang tidak mampu menasehati si B.

3.       Menghujat seseorang itu adalah termasuk ghibah, sebab ghibah itu menurut kitab-kitab salaf adalah: menuturkan sesuatu yang ada pada orang lain, yang apabila orang yang dituturkan tersebut mendengarnya, dia marah atau tidak senang hatinya.


Sumber :@ Koleksi Bahtsul Masail yang dimiliki oleh KH. A. Masduqi Machfudh, termasuk arsip Kolom Bahtsul Masail dari majalah PWNU Jawa Timur Aula, Bahtsul Masail Wilayah (PWNU) Jawa Timur, dan Bahtsul Masail pada muktamar maupun pra-muktamar NU.

@ Santri.net

SURAT AL FALAQ AN NAAS SEBAGAI PENANGKAL SIHIR

SURAT AL FALAQ AN NAAS SEBAGAI PENANGKAL SIHIR


Sihir merupakan salah satu ilmu yang digunakan untuk tujuan yang tidak baik , karena memiliki efek yang kurang baik bagi kehidupan manusia seperti menjadikan orang menjadi sakit , perpisahan antara suami dan istri dll , meskipun sebenarnya semua kembali pada qodrah dan irodahnya Allah . namun demikian sihir tetap ada di dunia ini karena untuk cobaan manusia sebagai hamba yang beriman .

Awal Munculnya Ilmu Sihir dan Tujuannya

Pada kenyataanya sihir santet dan sejenisnya memang sudah ada jauh sebelum Nabi Muhammad diutus menjadi rosul , karena memang ilmu tersebut sengaja disebarkan sebagai cobaan bagi orang yang beriman lewat kedua malaikat Allah , Harut dan Marut . dalam Alqur’an surat Al Baqoroh ayat 101- 103 Allah menjelaskan :

وَلَمَّا جَاءَهُمْ رَسُولٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ نَبَذَ فَرِيقٌ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ كِتَابَ اللَّهِ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ كَأَنَّهُمْ لَا يَعْلَمُونَ () وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ () وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ خَيْرٌ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (} [البقرة: ,101102، 103]

Dari ayat tersebut sudah jelas bahwa ilmu sihir memang sudah ada sejak dulu dan bertujuan sebagai cobaan bagi hamba Allah agar bisa menjaga diri terjerumus kedalamkekufuran .

Surat Al Falaq dan An Naas sebagai Penangkal Sihir

Pada zaman Rosulullah juga terjadi , yaitu ketika Labid al Yahudi mensihir Nabi dengan mengikat sebanyak 11 ikatan pada saat itu Nabi merasa kesakitan dan Allah memberitahu kepada Nabi tentang kejadian tersebut kemudian memerintahkan untuk mengangkat telapak tangan dan membaca ta’awudz serta surat al Falaq dan an Naas ,  dan ketika membaca kedua ayat tersebut semua ikatan terlepas dan Nabi merasa ringan . 

 نزلت هذه السورة والتي بعدها لما سحر لبيد اليهودي النبي صلى الله عليه وسلم في وتر به إحدى عشرة عقدة فأعلمه الله بذلك وبمحله فأحضر بين يديه صلى الله عليه وسلم وأمر بالتعوذ بالسورتين، فكان كلما قرأ آية منها انحلت عقدة ووجد خفة، حتى انحلت العقد كلها، وقام كأنما نشط من عقال.

Ayat ini ( al Falaq ) dan satu ayat setelahnya turun karena Labid al Yahudi mensihir Nabi SAW dengan tali sebanyak 11 ikatan , kemudian Allah memberi tahu Nabi akan kejadian tersebut dan tempatnya , kemudian memerintahkan mengankat telapak tangan dan membacakan ta’awudz dengan dua surat ( al Falaq , An Nas ) dan ketika di baca dua ayat tersebut satu ikatan terlepas dan Nabi meresa ringan sampai semua ikatan terlepas dan Nabi berdiri seperti sesorang yang terlepas dari ikatan .

Tafsir Jalalain Juz : 2 Hal : 512

Cara Menggunakan Surat Al Falaq An Naas sebagai Penangkal Sihir 

Dalam prakteknya ada berbagai macam cara yang digunakan berdasarkan berbagai riwayat , diantaranya :

1.    Membaca tiga kali setiap satu kali bacaan ditiupkan ke telapak tangan lalu diusapkan keseluruh    badan setiap akan tidur.
2.    Cukup dibaca tiap selesai sholat fardhu
3.    Ketika dalam keadaan sakit , dibacakan orang lain dan diusapkan keseluruh tubuh yang       sakit

Demikian sedikit keterangan tentang Faedah surat Al Falaq An Naas sebagai penangkal sihir . semoga bermanfaat bagi kita semua amin .

Wallahu a’lam bis showab 

DO’A DAN WAKTU YANG TEPAT UNTUK JIMA’ ( berhubungan suami istri)

DO’A DAN WAKTU YANG TEPAT UNTUK JIMA’ ( berhubungan suami istri)



jima’ ( berhubungan suami istri ) merupakan kebutuhan yang sangat mendasar dalam sebuah hubungan suami istri karena kegiatan tersebut juga yang menjadi sarana mendapatkan keturunan , namun tentu butuh ketelitian serta waktu yang tepat untuk melakukanya dengan tujuan memperoleh hubungan yang harmonis serta keturunan yang baik .

dalam kitab Ihya’ Ulumuddin Imam Ghozali menjelaskan beberapa adab serta waktu  yang tepat dalam berhubungan intim serta do’a do’a yang harus di baca :

 إحياء علوم الدين لمحمد الغزالي (2/ 49)

ويستحب أن يبدأ باسم الله تعالى ويقرأ قل هو الله أحد أولا ويكبر ويهلل ويقول بسم الله العلي العظيم  اللهم اجعلها ذرية طيبة إن كنت قدرت أن تخرج ذلك من صلبي  وقال صلى الله عليه و سلم لو أن أحدكم إذا أتى أهله قال اللهم جنبني الشيطان وجنب الشيطان ما رزقتنا  فإن كان بينهما ولد لم يضره الشيطان // حديث لو أن أحدكم إذا أتي أهله قال اللهم جنبنا الشيطان الحديث متفق عليه من حديث ابن عباس //  وإذا قربت من الإنزال فقل في نفسك ولا تحرك شفتيك الحمد لله الذي خلق من الماء بشرا فجعله نسبا وصهرا وكان ربك قديرا  وكان بعض أصحاب الحديث يكبر حتى يسمع أهل الدار صوته ثم ينحرف عن القبلة ولا يستقبل القبلة بالوقاع إكراما للقبلة وليغط نفسه وأهله بثوب كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يغطي رأسه ويغض صوته ويقول للمرأة عليك بالسكينة // حديث كان يغطي رأسه ويغض صوته ويقول للمرأة عليك بالسكينة رواه الخطيب من حديث أم سلمة بسند ضعيف //  وفي الخبر إذا جامع أحدكم أهله فلا يتجردان تجرد العيرين // حديث إذا جامع أحدكم امرأته فلا يتجردان تجرد العيرين أخرجه ابن ماجة من حديث عتبة بن عبد بسند ضعيف //  أي الحمارين وليقدم التلطف بالكلام والتقبيل قال صلى الله عليه و سلم لا يقعن أحدكم على امرأته كما تقع البهيمة وليكن بينهما رسول قيل وما الرسول يا رسول الله قال القبلة والكلام // حديث ولا يقعن أحدكم على امرأته كما تقع البهيمة الحديث رواه أبو منصور الديلمي في مسند الفردوس من حديث أنس وهو منكر //  وقال صلى الله عليه و سلم ثلاث من العجز في الرجل أن يلقى من يحب معرفته فيفارقه قبل أن يعلم اسمه ونسبه والثاني أن يكرمه أحد فيرد عليه كرامته والثالث أن يقارب الرجل جاريته أو زوجته فيصيبها قبل أن يحدثها ويؤانسها ويضاجعها فيقضي حاجته منها قبل أن تقضي حاجتها منه // حديث ثلاث من العجز في الرجل أن يلقى من يحب معرفته فيفارقه قبل أن يعرف اسمه الحديث رواه أبو منصور الديلمي من حديث أخصر منه وهو بعض الحديث الذي قبله //  ويكره له الجماع في ثلاث ليال من الشهر الأول والآخر والنصف  يقال إن الشيطان يحضر الجماع في هذه الليالي ويقال إن الشياطين يجامعون فيها وروي كراهة ذلك عن علي ومعاوية وأبي هريرة رضي الله عنهم  ومن العلماء من استحب الجماع يوم الجمعة وليلته تحقيقا لأحد التأويلين من قوله صلى الله عليه و سلم رحم الله من غسل واغتسل // حديث رحم الله من غسل واغتسل تقدم في الباب الخامس من الصلاة //  الحديث   ثم إذا قضى وطره فليتمهل على أهله حتى تقضي هي أيضا نهمتها

“Dan disunnahkan memulai dengan membaca bismillah. Selanjutnya diawali dengan membaca Qul huwallahu ahad, membaca takbir, lalu membaca doa: Bismillah al-‘aliy al-‘azhîm allahumma ij’alha dzurriyatan thayyibah in kunta qaddarta an tukhrija dzalika min shulbi. Rasulullah saw bersabda, jika salah satu di antara kalian mendatangi isterimu maka berdoalah, allahumma jannibnisy-syaithân wa jannibisy-syaithân ma razaqtana, karena apabila (hubungan badan) di antara keduanya menghasilkan anak maka syaitan tidak akan menggangunya. Dan apabila si istri menjelang orgasme, maka bacalah dalam hatimu dan jangan gerakkan kedua bibirmu:Alhamdulillahil ladzi khalaqa minal-mâ`i basyaran fa ja’alahu nasaban wa shahran wa kâna rabbuka qadîran. Dan sebagian ashab al-hadîts bertakbir sampai seiisi rumah mendengarnya. Kemudian berpaling dari kiblat dan tidak menghadap kiblat ketika jimak karena untuk memuliakan kiblat. Dan hendaknya (suami) menutupi dirinya dan istrinya dengan kain . Rasulullah saw menutupi kepalanya dan memelankan suaranya sembari berkata kepada istrinya, tenanglah. Bila salah satu dari kalian berhubungan badan dengan istrinya maka jangan keduanya bertelanjang bulat seperti halnya dua keledai. Dan (sebelum berhubungan badan) hendaknya didahului dengan cumbu-rayu dan ciuman. Rasulullah saw bersabda: Janganlah salah satu di antara kalian menyetubuhi isitrinya sebagaimana persetubuhan hewan, dan hendaknya di antara keduanya ada perantara. Lantas ditanyakan (kepada beliau), apa itu perantara wahai Rasulullah saw, beliau-pun menjawab, ciuman dan cumbu-rayu….kemudian ketika suami mengalami orgasme maka hantarkan sang istri secara perlahan-lahan sampai ia juga mengalami orgasme.

Ihya’ Ulumuddin Juz : 2 Hal : 49 – 50

Lebih lanjut menurut Imam al-Ghazali, jika ingin mengulangi jimak yang kedua maka sebaiknya membersihkan atau mencuci terlebih dahulu kemaluannya. Setelah berjimak segeralah mandi junub, namun apabila ingin langsung tidur atau makan maka lakukan wudlu terlebih dahulu.

Amalan yang sebaiknya dilakukan sebelum memulai jimak adalah sebagai berikut:
  1. Disunnahkan untuk membaca bismillah
  2. Membaca surat Al-Ikhlash
  3. Membaca takbir dan tahlil (Allohu akbar, Laailaha illalloh)
  4.  Membaca doa: Bismillahil-‘aliyy al-azhim. Allahumma ij`alhâ dzurriyatan thayyibah, in kunta qaddarta an tukhrija dzâlika min shulbi. Allahumma jannibni asy-syaithân wa jannib asy-syaithân mâ razaqtanâ.
  5. Memakai penutup atau selimut,
  6. Memulai dengan cumbu-rayu dan ciuman

Amalan ketika sedang jimak:
  1. Hindari untuk mengadap kearah kiblat
  2. Hindari terlalu banyak pembicaraan
  3.  Ketika istri menjelang orgasme, maka suami mengatakan dalam hati: Alhamdulillahil-ladzi khalaqa minal-mâ` basyara faja’alahu nasaban wa shahra wa kana rabbuka qodîra.
  4. Usahakan untuk keluar bersama-sama, karenanya pihak lelaki jangan terburu-buru untuk segera mentuntaskan permainan sebelum pihak perempuan mencapai orgasme.
  5. Dan jika ingin mengulangi jimak yang kedua maka sebaiknya membersihkan atau mencuci terlebih dahulu kemaluannya.

Selanjutnya mengenai waktu yang pas untuk berjimak, menurut Imam al-Ghazali, sebaiknya jimak dilakukan setiap empat hari sekali, atau tergantung kebutuhan. Sebagian ulama ada yang mensunnahkan pada hari Jum’at. Dan dimakruhkan berjimak pada awal bulan, tengah, dan akhir bulan. Bagitu juga dimakruhkan berjimak pada awal malam.  Hal ini sebagaimana dikemukan oleh Imam al-Ghazali:
إحياء علوم الدين لمحمد الغزالي (2/ 50)

وينبغي أن يأتيها في كل أربع ليال مرة فهو أعدل إذ عدد النساء أربعة فجاز التأخير إلى هذا الحد نعم ينبغي أن يزيد أو ينقص بحسب حاجتها في التحصين فإن تحصينها واجب عليه وإن كان لا يثبت المطالبة بالوطء فذلك لعسر المطالبة والوفاء بها ولا يأتيها في المحيض ولا بعد انقضائه وقبل الغسل فهو محرم بنص الكتاب وقيل إن ذلك يورث الجذام في الولد وله أن يستمتع بجميع بدن الحائض ولا يأتيها في غير المأتى إذ حرم غشيان الحائض لأجل الأذى والأذى غير المأتى دائم فهو أشد تحريما من إتيان الحائض  وقوله تعالى فأتوا حرثكم أنى شئتم أي أي وقت شئتم وله أن يستمني بيديها وان يستمتع بما تحت الإزار بما يشتهي سوى الوقاع  وينبغي أن تتزر المرأة بإزار من حقوها إلى فوق الركبة في حال الحيض فهذا من الأدب وله أن يؤاكل الحائض ويخالطها في المضاجعة وغيرها وليس عليه اجتنابها وإن أراد أن يجامع ثانيا بعد أخرى فليغسل فرجه أولا وإن احتلم فلا يجامع حتى يغسل فرجه أو يبول ويكره الجماع في أول الليل حتى لا ينام على غير طهارة فإن أراد النوم أو الأكل فليتوضأ أولا وضوء الصلاة فذلك سنة

 “Dan sebaiknya suami mendatangi istirinya empat hari sekali. Dan ini adalah yang paling ideal karena jumlah maksimal perempuan (yang boleh dinikahi) itu empat. Selanjutnya boleh juga mengakhirkan sampai batas ini, bisa sebaiknya menambah atau mengurangi sesuai dengan kebutuhan istri dalam tahshîn….dan dimakruhkan bagi suami untuk berjimak pada tiga malam dari satu bulan yaitu pada awal bulan, akhir, dan tengah bulan. Dikatakan: Sesungguhnya syaitan akan menghadiri jimak yang dilakukan pada malam-malam ini…Sebagian ulama ada yang mensunnahkan jimak pada hari dan malam jumat sebagai hasil tahqiq terhadap salah satu dari dua ta’wil dari sabda Rasulullah saw: Allah akan merahmati orang mencuci dan mandi (pada hari jumat)….Dan jika suami ingin berhubungan badan dengan istrinya untuk yang kedua kali maka hendaknya ia mencuci kemaluannya….dan dimakruhkan berjimak pada awal malam sampai ia tidak tidur kecuali dalam kondisi tidak suci, maka jika ingin tidur atau makan hendaknya ia melakukan wudlu sebagaimana wudlu untuk shalat. Demikian ini hukumnya sunnah.

Ihya’ Ulumuddin Juz ; 2 Hal : 50

sumber : nu.or.id


RAIHLAH KESEMPATAN SEBELUM KESEMPATAN ITU HILANG

RAIHLAH KESEMPATAN SEBELUM KESEMPATAN ITU HILANG

pembaca yang berbahagia dalam kesempatan kali ini saya akan coba memberikan sedikit suguhan tentang betapa manusia itu tidak sadar akan besarnya ni'mat Allah SWT sehingga mereka tidak merasakan hadirnya ni'mat tersebut dan ketika keni'matan tersebut di cabut oleh Allah baru mereka sadar bahwa ada yang berkurang dari dirinya , oleh karenanya mari Raihlah kesempatan sebelum kesempatan itu hilang .  

 sesuai dengan tema diatas Nabi menjelaskan dalam sebuah hadist : 

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : اغتنم خمسا قبل خمس : شبايك قبل هرمك وصحتك قبل سقمك وغناك قبل  فقرك وحياتك قبل موتك وفراغك قبل شغلك . رواه الحاكم والبيهقى

Rosululllah SAW bersabda : raihlah lima perkara sebelum lima perkara , masa mudamu sebelum tuamu , sehatmu sebelum sakitmu, masa kayamu sebelum miskinmu , hidupmu sebelum matimu , masa senggangmu sebelum sibukmu . ( HR Al Hakim , al Baihaqi )

Dari  hadits diatas terdapat penjelasan yang sangat penting bagi kita dan menjalani kehidupan ini menuju ridho robbi : 

Pertama : Raihlah masa muda kamu sebelum masa tua datang 

hal itu menjelaskan bahwa selagi kita masih muda dan masih kuat menjalankan berbagai macam aktivitas serta berbuat kabaikan mari raih kesempatan masa muda tersebut , karena ketika masa muda tersebut sudah hilang maka hilang pula kesempatan itu 

Kedua : Raihlah masa sehat kamu sebelum datang masa sakit 

kesehatan merupakan modal yang utama seseorang beraktivitas sehingga hal tersebut menjadi sangat penting maka pada waktu sehat mari perbanyak amal ibadah dan to'at selagi masih diberikan kekuatan sehat .

Ketiga : Raihlah masa kaya kamu sebelum datang kemiskinan 

Harta merupakan titipan dari Allah kapan dan dimana saja Allah berhak untuk memindah dan mencabutnya oleh karena itu selagi kita diberi kesempatan kaya , jangan sia siakan kesempatan tersebut dengan mengeluarkan hak hak kekayaan serta hak faqir miskin dengan bersedekah dll karena hal tersebut tidak akan bisa kita lakukan setelah Allah mencabutnya dari kita . 

 Keempat : Raihlah kesempatan hidup sebelum datang kematian 

Hidup merupakan anugarah sekaligus cobaan , karena hidup merupakan ujian yang harus dilalui oleh karenanya selagi kita diberi kesempatan hidup jangan sampai kita sia siakan , berbuat baik , beramal sholih , serta menjalankan semua perintah dan menjauhi laranganya merupakan kewajiban kita jangan sampai semua itu terlewatkan hingga ajal menjemput .

Kelima : Raihlah kesempatan di masa senggang sebelum datang masa sibuk 

Tim is Money salah satu ungkapan bagi mereka yang pekerja keras , namun hal itupun bisa jadi motivasi kita bersama bahwa masa senggang di dunia dimana kita bisa menjalankan segala aktivitas dan semua bisa berbuah pahala jangan sampai terlewatkan sehingga ketika kita di mahsar tidak ada lagi istirahat tidak ada lagi kesempatan karena semua disibukan dengan urusanya sendiri sendiri disibukan dengan catatan amal kita sendiri sendiri .

Semoga sedikit catatan ini dapat merubah pola pikir kita sehingga kita bisa meraih kesempatan sebelum kesempatan itu hilang  

( nashoihul ibad hal: 34 )

JAMA'AH DULU ATAU JIMA' DULU ?????

JAMA'AH DULU ATAU JIMA' DULU ?????



Untuk seorang muslim, mengatur waktu patut diperhatikan. Pasalnya dalam 1 x 24 jam, ia wajib melaksanakan sembahyang di lima waktu yang ditentukan. Lima waktu itu tidak boleh dirapel tanpa uzur syar’i. Bahkan kalau bisa semua sembahyang itu dikerjakan secara berjamaah di awal waktu mengingat besar keutamaannya.

Namun demikian, kekhusuyu’an dalam sembahyang juga patut diperhatikan. Khusyu’ dalam arti sedapat mungkin menyingkirkan segala hal yang sekiranya dapat menyibukkan pikiran. Untuk itu, makruh hukumnya sembahyang seseorang dalam keadaan menahan buang air kecil maupun air besar. Demikian pula makruhnya sembahyang sementara makanan dan minuman telah tersaji.

Lalu bagaimana dengan seseorang yang ingin mengejar keutamaan berjamaah sementara pikirannya tersandera pada tuntutan-tuntutan biologis. Syekh Muhammad Romli dalam Nihayatul Muhtaj ila Syarhil Minhaj mengatakan,

والسنة أن يتخلف عن الجماعة لما مر من كراهة الصلاة مع ذلك

Disunahkan untuk tidak memaksakan diri mengejar keutamaan berjamaah. Karena, kalau dipaksakan berjamaah sembahyangnya menjadi makruh karena beberapa sebab tersebut.

Pada kitab yang sama, Syekh M Romli menegaskan sebagai berikut.

تكره الصلاة في كل حالة تنافي خشوعه

Makruh sembahyang dalam setiap keadaan yang menafikan kekhusyukan.

Menerangkan kata “yang menafikan kekhusyukan”, Syekh Ali bin Ali Syibromalisi dalam Hasyiyah ala Nihayatil Muhtaj menambahkan contoh konkret.

(تنافي خشوعه) ومنه ما لو تاقت نفسه للجماع بحيث يذهب خشوعه لو صلى بدونه 

Di antara menafikan kekhusyu’an ialah ketika keadaan seorang suami sangat tertekan untuk berjima’ dengan istrinya. Keadaan itu bisa dibilang mendesak, artinya kalau tidak berjima’ terlebih dahulu, maka kekhusyu’an sembahyangnya akan hilang.

Tentu saja seorang muslim dianjurkan untuk menuntaskan kebutuhan biologisnya mulai dari buang air, berjima’, atau mengonsumsi makanan atau minuman. Dengan catatan, waktu sembahyangnya masih panjang.

ومحل ماذكر في المذكورات عند اتساع الوقت

Tempatnya melakukan apa yang telah disebut di atas ialah bila waktu sembahyangnya masih panjang. Demikian keterangan Syekh M Romli.

Kalau waktu sudah mepet, tentu sembahyang mesti lebih didahulukan. Karenanya, waktu makan, waktu buang air, waktu berjima', dan waktu lainnya, mesti digantungkan pada jadwal lima waktu sembahyang. Wallahu A’lam (Alhafiz K)

Sumber : nu.or.id
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Islam Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger